Umum

Sudwikatmono: Sosok Tajir yang Tak Lupa Sedekah

Sudwikatmono adalah konglomerat Indonesia yang sangat tajir. Kariernya diawali dari pengekspor kulit 1957 lalu menjadi Komisaris PT Bogasari Flour Milks, Komisaris PT Indofood Sukses Makmur, Komisaris PT Indika Entertainment, dan salah satu pengurus Yayasan Dana Sejahtera Mandiri. Maka tak heran jika Tri Hanurita memiliki kedudukan penting sejumlah perusahaan besar. Bahkan, Agus Lasmono Sudwikatmono menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Ia mengembuskan napas terakhir di usia 76 tahun.  Sudwikatmono menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Mount Elizabeth tepat pukul 05.00 waktu Singapura akibat komplikasi penyakit ginjal dengan penyakit lainnya.  Bagaimana kisah perjalanan Sudwikatmono yang begitu menginspirasi tersebut?. Berikut ulasannya untuk Anda.

Baca juga : Tsamara Amany Alatas

Sudwikatmono: Sosok Tajir yang Tak Lupa Sedekah

Sudwikatmono: Sosok Tajir yang Tak Lupa Sedekah
Sudwikatmono: Sosok Tajir yang Tak Lupa Sedekah

Biodata

Nama Lengkap: Sudwikatmono Prawirodiharjo
Tempat Lahir: Wonogiri, Jawa Tengah
Tanggal Lahir: 28 Desember 1934
Ayah: M Ng. Rawi Prawirowihardjo
Ibu: Sanikem
Istri: Hj Sri Sulastri
Anak: Martina Melsiawati, Miana Dwi Lasmini, Tri Hanurita , Agus Lasmono
Pendidikan: Sekolah Rakyat di Desa Wates, Jawa Timur, Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada
Karier: pegawai di PN Jaya Bhakti, Komisaris PT Bogasari Flour Milks, Komisaris PT Indofood Sukses Makmur, Komisaris PT Indika Entertainment, pendiri Cineplax
Kegiatan Sosial: Ketua Yayasan Seni Rupa Indonesia, salah satu pendiri Yayasan Dana Sejahtera Mandiri, penggagas Sekolah Bakti Mulya dan mendukung pembangunan Masjid Pondok Indah Jakarta Selatan

Sudwikatmono mungkin adalah kisah nyata seorang “Raja Midas”. Mitologi Yunani menyebutkan bahwa apapun yang disentuh Raja Midas dari Phrygia akan berganti menjadi emas. Sepupu Presiden RI ke-2, Soeharto lahir pada 28 Desember 1934 di Wonogiri, Jawa Tengah. Dwi, begitu panggilan akrab Sudwikatmono Prawirodiharjo adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara pasangan M Ng. Rawi Prawirowihardjo, seorang pegawai kecil di kantor dan Sanikem yang tak lain adalah adik Kertisudiro, ayah Presiden Soeharto. Masa kecil Sudwikatmono dihabiskan di Sekolah Rakyat yang ada di Desa Wates, Jawa Timur. Kemudian, Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada menjadi pilihan pendidikan tinggi selanjutnya. Saat kuliah, sebenarnya Sudwikatmono memiliki cita-cita menjadi tentara sama dengan anak-ank Prawirodihardjo lainnya Soeharto dan Sulardi, kakak Dwi. Namun sayang impian tersebut ditentang oleh sang ayah. Akhir 1950-an, ia diterima menjadi pegawai di PN Jaya Bhakti, perusahaan dagang milik negara di Jakarta. Dwi tak pernah berambisi atau bermimpi tinggi, dia dan istrinya sudah puas dengan gaji dan tambahan pendapatan dari penjualan karung goni bekas. Sebagai kepala seksi Jaya Bhakti, Dwi mendapatkan gaji sekitar Rp 400 per bulan. Jalan hidup dan takdir seseorang memang tak bisa menerka. Ketika Dwi merintis karies di Jaya Bhakti, posisi kakak sepupunya Soeharto, semakin strategis. Soeharto yang berpangkat mayor jenderal berhasil menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Bahkan, kasus pembunuhan para jenderal Angkatan Darat tanggal 30 Septmber 1965 yang mengubah jalan hidup Soeharto juga berimbas pada nasib Sudwikatmono.

Baca juga : Kata Kata Bijak

Sudwikatmono: Sosok Tajir yang Tak Lupa Sedekah
Sudwikatmono: Sosok Tajir yang Tak Lupa Sedekah

Hasil “comblangan” pak Soeharto, kongsi bisnis empat serangkai antara Liem, Sudwikatmono, Djuhar Sutanto, dan Ibrahim Risjad tumbuh menjadi gurita bisnis yang besarnya luar biasa. Kekuasaan Soeharto kala itu banyak melancarkan jalan bagi bisnis mereka. Hingga mereka berempat diibaratkan dengan kursi empat kaki dimana terdapat keseimbangan yang sempurna. Sudwikatmono tak memiliki modal kala itu, modal utamanya adalah status sebagai adik sepupu Presiden Soeharto. Tak hanya jadi pelicin jalan segala urusan dengan pemerintah, Sudwikatmono juga menjadi juru bicara kongsi dan penengah saat mereka berempat berselisih paham. Dari gagalnya menjadi tentara tersebut dan bergabungnya dengan “Empat Serangkai” malah membuat karier profesional Sudwikatmono semakin cemerlang. Alhasil, perusahaan besar mulai dari PT Indocement Prakarsa Tbk, PT Indofood Sukses Makmur, PT Bogasari Flour Milks, dan PT Indika Entertainment berhasil ia pimpin. Indika Group sendiri kini dipimpin oleh Agus Lasmono, anak Sudwikatmono. Pria yang lihai berbisnis tersebut juga pernah memiliki Cineplax meskipun kemudian dilego pihak lain. Selain berbisnis, Sudwikatmono juga aktif dalam kegiatan sosial budaya dan sempat menjabat sebagai ketua Yayasan Seni Rupa Indonesia. Selain itu, ia juga mendirikan Sekolah Bakti Mulya dan mendukung pembangunan Masjid Pondok Indah Jakarta Selatan. Awal tahun 1980-an, Sudwikatmono merintis modernisasi bioskop dengan membangun sinepleks bermerek dagang 21. Nama tersebut diambil karena Gedung sinepleks perdananya didirikan di Jl. MH Thamrin Kav 21. Kini bisnis-bisnis yang dikelola oleh Sudwikatmono menjadi pegangan kuat bagi anak-anknya untuk melanjutkan bisnis besar ayahnya.  Agus Lasmono Sudwikatmono memiliki total kekayaan Rp 7,6 triliun. Sementara, Tri Hanurita sempat menjadi anggota DPR RI.

Baca juga : Motto Hidup

Masih Memikirkan Nasib Negara

Sudwikatmono: Sosok Tajir yang Tak Lupa Sedekah
Sudwikatmono: Sosok Tajir yang Tak Lupa Sedekah

Di perjalanan usia 72 tahun, suami Hj Sri Sulastri tersebut masih memikirkan nasib bangsanya yang berada di garis kemiskinan. Ayah dari empat orang anak, Martina Melsiawati, Miana Dwi Lasmini, Tri Hanurita , Agus Lasmono serta 8 orang cucu ini bersama dengan pengusaha kakap lainnya mendirikan sebuah wadah yang bernama Yayasan Damandiri (Dana Sejahtera Mandiri). Meskipun sudah berbeda dengan sepuluh tahun lalu, namun kiprah dan aktivitasnya dalam Yayasan Damandiri masih sangat jelas. Dalam mengentaskan kemiskinan bersam Yayasan Damandiri, Sudwikatmono menilai jika yayasan tersebut belum mencapai target, namun sudah tepat sasaran. Menurutnya, hal ini terjadi karena presiden yang selalu bergonta-ganti, sehinga tidak ada yang peduli dengan yayasan dari gagasan Pak Harto sebagai presiden kedua Republik Indonesia tersebut. Faktor-faktor inilah yang membuat Sudwikatmono memikirkan kemiskinan yang semakin lama bukan menurun, namun malah semakin meningkat. Menurutnya, jasa presiden dulu tidak boleh dilupakan begitu saja, namun harus dikembangkan lagi demi masa depan yang lebih baik. Sebagai salah satu tokok pendiri Damandiri, Sudwikatmono berharap jika kinerja Yayasan tidak hanya bergantung pada Pemerintah tetapi fokus pada program-program sosial untuk membantu rakyat-rakyat miskin dan kekurangan agar kehidupan mereka lebih sejahtera. Sebab bagi Sudwikatmono, membantu orang-orang yang susah tidak akan mengurangi apapun yang ada dalam dirinya. Perbuatan tersebut adalah perbuatan baik dan diridhoi Allah. Selama masih hidup, kebajikan harus benar-benar dibangun. Usahakan untuk membuka mata dan hati serta ringankan tangan agar bisa membantu sesamanya. Santun saat mengelola usaha, namun juga ramah berderma. Beberapa saran bijak tersebut selalu disampaikan Sudwikatmono. Sangat menginspirasi bukan?

Baca juga : Sang Master MMA

Pengusaha nasional yang sangat aktif di masa Orde Baru, Sudwikatmono memulai karier bisnisnya mulai dari nol. Sepeda bekas di pasar Gedean dekat Kemasuk, Yogyakarta adalah saksi bisu perjalanan bisnisnya sukses seperti sekarang. Dengan kegigihan dan semangat tinggi, kerabat dekat keluarga Cendana tersebut berhasil menjalankan bisnisnya dengan baik. Namun, dibalik kekayaannya yang melimpah, pak Dwi tidak pernah lupa untuk berbaik hati dengan sesamanya. Demikian kisah Sudwikatmono, salah satu pengusaha tajir Indonesia yang tak pernah lupa akan sedekah. Semoga kisah tersebut bisa menginspirasi masyarakat Indonesia.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close