Umum

Sejarah Awal Kota Medan dan Pemerintahannya

Kota Medan merupakan ibukota provinsi Sumatera Utara dan menjadi kota terbesar urutan ketiga di Indonesia dan terbesar di luar pulau Jawa. Medan menjadi kota pertama di Indonesia yang mengintegrasikan bandara dengan kereta api. Nah tahukah kalian awal mula terbentuknya kota Medan? Untuk itu, Anda tidak perlu khawatir karena di dalam artikel ini akan diulas mengenai sejarah awal kota Medan lengkap beserta pemerintahannya. Oleh karena itu, simak baik-baik ulasannya di bawah ini!

Sejarah Awal Kota Medan

Sejarah Awal Kota Medan

Kata Medan berasal dari bahasa Tamil yaitu Maidhan atau Maidhanam yang berarti tanah lapang atau tempat yang luas. Kemudian kata tersebut diadopsi oleh bahasa Melayu. Dulu, kota Medan dikenal masyarakat dengan nama Tanah Deli. Dulu, Tanah Deli memiliki keadaan tanah yang berupa rawa-rawa dengan luas kurang lebih sekitar 4000 Ha. Ada beberapa sungai yang melintasi kota Medan ini dimana semua sungai tersebut bermuara ke Selat Malaka seperti sungai Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Badra, Sei Belawan, dan Sei Sulang Saling.

Lokasi asli kampung Medan adalah sebuah tempat dimana sebagai tempat bertemunya Sungai Deli dengan sungai Babura. Medan pertama kali ditempati oleh orang-orang yang berasal dari suku Batak Kuro. Setelah penguasa Aceh, Sultan Iskandar Muda mengirimkan panglimanya yang bernama Gocah Pahlawan untuk menjadi wakil Kerajaan Aceh di Tanah Deli. Setelah itu, barulah Kerajaan Deli mulai berkembang. Perkembangan tersebut ikut mendorong pertumbuhan yang terjadi dari segi penduduk maupun kebudayaan Medan.

Baca juga : Sejarah Kota Bandung

Terdapat berbagai kerancuan dari berbagai sumber mengenai asal usul kata Medan, diantaranya:

  • Adanya catatan dari penulis-penulis yang berasal dari awal abad ke 16 menyebutkan bahwa Medan berasal daro nama “Medin”
  • Sebagian masyarakat menyatakan bahwa kata “Medan” disebutkan karena kota ini merupakan tempat bertemunya berbagai suku sehingga banyak yang mengatakan jika Medan sebagai tempat medan pertempuran.
  • Para saudagar dari Arab yang kebetulan melihat tanah Medan, mereka mengatakan Median yang berarti datar atau rata. Pada kenyataannya, Medan memiliki kontur tanah yang rata dimulai dari Pantai belawan sampai daerah Pancur Batu. Bila dilihat dari ketinggiannya maka Medan seperti hamparan tanah yang datar.
  • Dalam bahasa Batak Karo Medan berarti “sehat”. Namun kembali lagi ke pengertian awal. Apabila kita melihat dari sumber-sumber sejarah bahwa kota Meda pertama kali di diami oleh Suku Batak, maka dalam hal ini kata “Medan” haruslah berasal dari bahasa Batak Karo. Dalam salah satu kamus bahasa Batak Karo-Indonesia, Medan berarti “menjadi sehat” atau “lebih baik”.
Sejarah Awal Kota Medan

Menurut “Hikayat Aceh”, Medang dianggap sebagai suatu pelabuhan yang telah ada sejak tahun 1590 dan sempat dihancurkan selama serangan Sultan Aceh Alauddin Saidi Mukammil dengan Raja Haru yang pada saat itu berkuasa di daerah tersebut. serangan serupa juga dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1613 terhadap Kesultanan Deli. Sejak akhir abad ke 16, nama hHaru kemudian berubah menjadi Ghuri dan pada akhirnya berubah menjadi Deli yang digunakan sejak awal abad ke 17. Pertempuran antara Haru dan Aceh berlangsung terus menerus yang mana mengakibatkan penduduk Haru berkurang. Sebagian daerah sudah ditaklukan dan banyak warga yang dipindahkan ke Aceh untuk dijadikan pekerja kasar.

Baca juga : Sejarah Kota Jakarta

Dalam Riwayat Hamparan Perak yang dalam dokumen aslinya ditulis menggunakan huruf Karo tercatat bahwa ada salah satu tokoh masyarakat Karo yang menjadi orang pertama yang membuka “desa” dan diberi nama Medan. Tokoh tersebut bernama Guru Patimpus. Patimpus adalah anak Tuan Si Raja Hita, seorang pemimpin Karo yang tinggal di Kampung Pekan. Antara tahun 1614-1630, beliau mulai belajar agama Islam dan di Islamkan oleh Datuk Kota Bangun. Selanjutnya Guru Patimpus menikah dengan adik dar Tarigan, seorang pemimpin daerah yang sekarang dinamakan Pulau Brayan dan membuka desa Meda yang treletak di antara Sungai Babura dan Sungai Deli. Guru Patimpus pun menjadi pemimpin dan mulai memimpin desa tersebut.

Pada tahun 1590, Guru Patimpus mulai dipandang sebagai pembuka sebuah kampung yang bernama Medan Putri yang berlokasi di Tanah Deli sehingga banyak yang merangkaikan Medan dengan Deli menjadi Medan-Deli. Namun Setelah zaman kemerdekaan, istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap sehingga kurang populer lagi. Perkampungan Medan Putri terletak di daerah strategis yaitu sekitar pertemuan sungai Deli dan sungai Babura yang berada tidak jauh dari jalan Putri Hijau. Pada zaman dahulu, kedua sungai tersebut merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup padat sehingga dapat dikatakan kampung Medan Putri menjadi cikal bakal berdirinya Kota Medan.

Keterangan yang menguatkan adanya Kampung Medan Putri ini berasal dari keterangan Muhammad Said yang mana mengutip dari buku Deli: In Woord en Beeld. Beliau mengatakan bawah dahulu kala, Kampung Medan Putri ini merupakan sebuah benteng dan sisanya terdiri dari dinding dua lapis yang berbentuk bundaran. Letak kampung Medan Putri ini di tempat yang sekarang ini menjadi Wisma Benteng.

Baca juga : Sejarah Kalimantan

Sejarah Awal Kota Medan

Pada tahun 1833, ada seorang dari Inggris mengunjungi Deli yang bernama John Anderson telah menemukan sebuah kampung yang bernama Medan dimana kampung ini berpenduduk sekitar 200 orang dan adanya pemimpin yang bernama Raja Pulau Berayan yang sudah beberapa tahun telah bermukim disana untuk menarik pajak dari sampan-sampan pengangkut lada. Pada tahun 1860, Medan masih berupa daerah hutan rimba dengan banyak muara sungai dan diselingi dengan pemukiman penduduk yang berasal dari daerah Karo dan Semenanjung Malaya. Hal tersebut dikemukakan oleh Volker. Pada tahun 1863, Orang-orang Belanda mulai membuka perkebunan tambakau di Deli yang mana menjadi primadona tanah Deli. Sejak saat itulah perekonomian di Medan terus mengalami perkembangan dan menjadikan Medan sebagai Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.

Pada tahun 1886, Medan secara resmi mendapatkan status sebagai Kota, dan pada tahun berikutnya menjadi ibu kota Keresidenan Sumatera Timur sekaligus ibukota Kesultanan Deli. Dan pada tahun 1909, Medan menjadi kota penting luar Jawa terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran. Yang menjadi Dewan Kota pertama terdiri dari 12 anggota dari orang Eropa, dua orang dari bumiputra Melayu, dan Seorang Tionghoa. Sejak tahun 1950, Medan telah beberapa kali melakukan perluasan area dari 1.853 ha menjadi 26.510 ha pada tahun 1974. Dengan demikian, dalam tempo 25 tahun setelah dilakukan penyerahan kedaulatan, Kota Medan bertambah luas hampir delapan belas kali lipat.

Baca juga : Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Pemerintahan Kota Medan

Pemerintahan Kota Medan

Kota medan dipimpin oleh seorang walikota. Saat ini, jabatan walikota dipegang oleh Rahudman Harahap dan jabatan wakil walikota di pegang oleh Dzulmi Eldin. Wilayah Kota Medan dibagi menjadi 21 kecamatan dengan 151 kelurahan. Berikut 21 kecamatan yang ada di Kota Medan:

  • Medan Johor
  • Medan Tuntungan
  • Medan Amplas
  • Medan Area
  • Medan Kota
  • Medan Denai
  • Medan Polonia
  • Medan Maimun
  • Medan Selayang
  • Medan Baru
  • Medan Sunggal
  • Medan Helvetia
  • Medan Petisah
  • Medan Timur
  • Medan Barat
  • Medan Perjuangan
  • Medan Tembung
  • Medan Deli
  • Medan Belawan
  • Medan Labuhan
  • Medan Marelan

Nah itulah informasi mengenai ulasan sejarah awal kota Medan terlengkap beserta pemerintahannya. Semoga apa yang diulas di dalam artikel ini bermanfaat bagi Anda terutama bagi orang-orang atau juga penduduk Kota Medan yang belum mengetahui sejarah dari Kota Medan.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close