Umum

Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis

Salah satu Hakim Mahkamah Konstitusi yang diangkat pada tahun 2017 silam untuk menangani kasus gugatan hasil Pilpres oleh Prabowo-Sandiaga adalah Saldi Isra. Saldi merupakan hakim dari kalangan intelektual hasil pilihan Presiden Jokowi menggantikan hakim Patrialis Akbar yang ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi karena kasus suap. Lalu bagaimana perjalanan Saldi Isra hingga menjadi hakim MK? Berikut ulasan lengkapnya untuk Anda.

Biodata Saldi Isra

Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis
Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis

Nama: Prof. Dr. Saldi Isra, S.H., M.P.A. Tempat Lahir: Paninggahan, Solok
Tanggal Lahir: 20 Agustus 1968
Jabatan: Hakim Konstitusi
Istri: Leslie Annisaa Taufik
Anak: Wardah A. Ikhsaniah Saldi, Aisyah ‘Afiah Izzaty Saldi, dan Muhammad Haifan Saldi
Pendidikan: S1 Hukum Tata Negara Universitas Andalas (1995), S2 Institute of Postgraduate Studies and Reserach University of Malaysia (2001), S3 Fakultas Hukum Universita Gajah Mada, Yogyakarta (2009)

Pria kelahiran tahun 1968 ini tidak hanya dikenal sebagai akademisi, namun juga seorang aktivis yang sering menerbitkan tulisan-tulisan tentang korupsi di Indonesia. Putra pasangan Ismail dan Ratina memiliki nama sejak lahir, Sal. Saat mendaftar SD, kepala sekolah sempat menanyakan kepada sang ayah mengenai namanya yang terlalu pendek. Akhiran –di pun kemudian ditambahkan ke nama belakang dan menjadi Saldi. Baru pada kelas 6 SD, Saldi menambahkan nama “Isra” atau singkatan dari nama kedua orang tuanya sebagai nama belakang.

Baca juga : Dian Pelangi

Kisah Perjalanan Saldi Isra

Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis
Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis

Saldi yang mengambil jurusan fisika saat SMA tidak pernah terbayang untuk mengambil jurusan hukum. Cita-cita di usianya kala itu adalah masuk Institut Teknologi Bandung (ITB) atau masuk AKABRI. PMDK ke ITB juga pernah ia lakukan, namun gagal. Ia kembali mencoba peruntungan melalui Sipenmaru tahun 1988 dengan mengambil jurusan Geologi di ITB, tetapi pil pahit kembali ia telan. Saldi tetap bersikeras menjadi mahasiswa ITB, lalu mencoba mengikuti UNMPTN 1989 dan lagi-lagi tidak lolos. Dua kali gagal, Saldi akhirnya hijrah ke Jambi untuk bekerja. Dengan uang yang dimilikinya, ia kembali mencoba peruntungan dengan mendaftar UNMPTN. Tiga jurusan yang dipilih adalah teknik pertambangan Universitas Sriwijaya, Teknik Sipil Universitas Andalas, dan Ilmu Hukum Universitas Andalas. Saldi pun lolos UNMPTN dengan pilihan jurusan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Lolosnya Saldi menjadi maahsiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas tidak langsung diterima baik oleh keluarga sebab mereka menginginkan Saldi tetap bekerja untuk menunjang perekonomian.

Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis
Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis

Namun, ia mengatakan jika kuliah tidak akan memberatkan ekonomi keluarga dan akhirnya setiap akhir minggu, ia mengajar di Madrasah Aliyah dekat rumahnya. Saldi yang biasa mengenal rumus fisika dan matematika, malah harus banyak membaca dan menulis. Namun, jurusan tak sengaja tersebut mampu membuatnya meraih IPK 3,71. Ia lebih merasa yakin saat memiliki IPK 4 di semester 2. Predikat Cum Laude dengan IPK 3,86 berhasil ia raih di pendidikan S1 pada tahun 1995 dan menjadi mahasiswa Teladan Berprestasi Utama I Universitas Andalas. Lulusan terbaik tersebut langsung dipinang menjadi dosen Universitas Bung Hatta hingga Oktober 1995 sebelum pindah ke Universitas Andalas, Padang. Pendidikan master ia lakoni di Universitas Malaya, Malaysia hingga lulus pada tahun 2001 dengan gelar Master of Public Administration. Sedangkan, gelar doktor di bidang hukum ia dapat dari Universitas Gajah Mada dengan predikat Cum Laude tahun 2009.

Baca juga : Dita Soedarjo

Karier Saldi Isra

Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis
Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis

Saldi Isra dikukuhkan menjadi Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas dan melekatkan gelar profesor di depan namanya. Di sela kegiatan mengajar, ia aktif menulis baik di media massa maupun jurnal lingkup nasional dan internasional. Ribuan karya yang ia tulis sejak menjadi mahasiswa membuat ia dikenal luas masyarakat. Wajahnya sering berkeliaran di media massa sebagai narasumber baik media cetak ataupun elektronik. Selain tergabung dalam Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Unand yang memperhatikan isu-isu ketatanegaraan, Saldi juga aktif dalam gerakan antikorupsi Tanah Air. Di lain waktu, Saldi juga berulang kali bermimpi menjadi hakim konstitusi. Ia menuturkan jika impian menjadi hakim konstitusi setelah usia 55 tahun. Namun, tak bisa dipungkiri takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan untuk seorang Saldi Isra. Justru di usia muda yakni 48 tahun, posisi hakim MK berhasil diduduki. Bukan hal mudah bagi Saldi mewujudkan impiannya sebab pergolakan batin berhasil memasuki dirinya karena merasa belum mampu menjabat sebagai hakim MK. Berat hatinya untuk menanggalkan status sebagai dosen kala itu. Akhirnya kata-kata mantan Ketua MK periode 2008-2013, Moh Mahfud MD berhasil menggugah hatinya untuk ikut mendaftar pada proses seleksi hakim MK tahun 2017 oleh Presiden Jokowi. Pak Mahfud mengatakan “Mas, kalau Anda tidak mau daftar berarti Anda tidak membuka jalan bagi generasi baru di MK”. Kata-kata tersebut menjadi salah satu pertimbangan Saldi Isra. Ia berharap, kehadirannya di MK dapat memberikan sumbangsih bersama dengan hakim konstitusi lain beserta seluruh pegawai di lingkungan Kepaniteraan dan Sekretariat Jenderal MK. Semua elemen tersebut harus bekerja secara optimal hingga membawa MK ke level yang lebih tinggi. Tak hanya di bidang akademis saja, Saldi Isra juga pernah memiliki posisi penting di perusahaan PT Semen Padang. Tahun 2016, pemegang saham PT Semen Padang melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa memutuskan Saldi Isra sebagai komisaris utama untuk menggantikan Letne TNI (Purn) Djamari Chianigo. Namun tahun 2017,  karena hakim MK tidak boleh merangkap jabatan demi independensi penegakan hukum, Saldi mengundurkan diri dari jabatan tersebut.

Baca juga : Ahmad Sahroni

Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis
Saldi Isra : Akademis, Penulis, Aktivis

Saldi juga berhasil menyabet penghargaan karena konsistensinya dalam penyadaran masyarakat dan kegiatan aktif terhadap perilaku anti-korupsi seperti Bung Hatta Anti-Corruption Award, Tokoh Muda Inspiratif Kompas, dan Megawati Soekarnoputri Kompas kategori Pahlawan Muda bidang Pemberantasan Korupsi. Saldi Isra juga telah melaporkan harta kekayaannya pada tahun 2017. Data LHKPN KPK mencantumkan jika kekayaan Saldi Isra mencapai Rp 6.630.043.910 rupiah. Harta tersebut sudah termasuk aset tanah dan bangunan, kendaraan serta kas. Tanah dan bangunan miliknya seluas 403m2/350 m2 di Padang sebesar Rp 640.000.000, tanah dan bangunan lain seluas 787m2/600 m2 di Padang sebesar Rp 1. 450.000.000, serta tanah dan bangunan seluas 2452m2 di Solok sebesar Rp 700.000.000. Total aset dan bangunan yang dimiliki Saldi Isra mencapai Rp 2.790.000.000 rupiah. Sementara harta berbentuk kas yang Saldi punya adalah sebesar Rp 2.710.043.910, surat berharga lain senilai Rp 700.000.000 serta benda bergerak lain senilai Rp 190.000.000. Meskipun hartanya mencapai miliaran rupiah, namun ia tak ingin mengoleksi mobil-mobil mewah seperti pejabat lainnya. Ia hanya memiliki satu mobil Toyota Yaris keluaran tahun 2016 senilai Rp 240.000. 000. Sangat sederhana bukan?

Baca juga : Edwin Soeryadjaya

Demikian kisah inspiratif dari Saldi Isra. Seorang hakim MK yang aktif sebagai penulis dan aktivis anti Korupsi. Semoga kisah tersebut bisa menginspirasi.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close