Umum

Kisah Sukses Prajogo Pangestu : Orang Terkaya Ke-3 di Indonesia

Tahukau.com – Pendiri bisnis Barito Pacific yaitu Prajogo Pangestu masuk ke dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Bahkan, pada 15 Agustus 2019 lalu, ia mendapatkan Anugerah Bintang Jasa Utama dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara karena dianggap paling berjasa dalam memajukan dan mensejahterakan negara. Pencapaian luar biasa tersebut tentunya tidak lepas dari dukungan sang istri, keluarga dan para karyawan Prajogo.  Penghargaan tersebut diberikan pun sebagai bentuk apresiasi karena berhasil mengembangkan industri petrokimia dan panas bumi Indonesia melalui dua perusahannya yakni PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dan Star Energ. Lalu, bagaimana kisah sukses Prajogo Pangestu mengembangkan bisnis besarnya tersebut? Simak ulasan berikut ini ya!

Baca juga : Erick Thohir

Kisah Sukses Prajogo Pangestu

Profil Lengkap Prajogo Pangestu

Profil Lengkap Prajogo Pangestu
Nama LengkapPrajogo Pangestu
PekerjaanPengusaha
Tempat/Tanggal LahirSambas, Kalimantan Barat, 13 MEI 1944
IstriHerlina Tjandinegara
AnakNancy dan Agus Salim
KarierPendiri Chandra Asri di Banten
Pendiri Bank Andromeda
Presiden PT Chandra Asri
Presiden Komisaris PT Tripolyta Indonesia Tbk
Presiden Komisaris PT Chandra Asri Petrochemical   Wakil Presiden Komisaris PT Tanjungenim Lestrai Pulp & Paper
Presiden Komisaris PT Barito Pacific Timber Tbk Komisaris PT Astra International
Pendiri Hotel di Pulau Sentosa, Singapura
Pendiri PT Musi Hutan Persada
Pendiri PT Barito Pacific Lumber
General Manager Pabrik Plywood Nusantara Gresik, Jawa Timur
Pegawai PT Djajanti Group 1969-1976

Prajogo Pangestu lahir di Sambas, Kalimantan Barat dengan nama asli Phang Djoem Phen. Ayahnya bernama Phang Siu On yang menghidupi keluarganya dari penyedap getah karet. Hidup yang pas-pasan membuat Prajogo kecil mengalami serba kekurangan hingga mengharuskan Prajogo hanya bisa menamatkan sekolah sampai tingkat menengah pertama. Demi perubahan nasibnya, ia kemudian memutuskan untuk merantau ke Jakarta, akan tetapi keberuntungan memang belum berpihak padanya. Di Jakarta ia tak kunjung mendapat pekerjaan lalu memutuskan menjadi sopir angkutan umum di Kalimantan. Saat menjadi sopir tersebut, Prajogo bertemu dengan pengusaha bernama Burhan Uray asal Malaysia. Pertemuan inilah yang membuat hidupnya berubah.

Baca juga : Saldi Isra

Awal Karier Prajogo Pangestu

Awal Karier Prajogo Pangestu

Ricardo Galael memutuskan bergabung dengan Burhan Uray di PT Djajanti Group tahun 1969. Berkat kerja keras yang dilakukan selama tujuh tahun, Burhan kemudian mengangkat Prajogo menjadi General Manager (GM) pabrk Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur. Namun, karirnya hanya berjalan selama setahun. Sebab, Prajogo memutuskan keluar dari perusahaan untuk berbisnis sendiri. Bermodalkan pinjaman BRI, ia membeli CV  Pacific Lumber Coy yang saat itu sedang mengalami polemik keuangan. Di bawah kepemimpinan Prjogo, Pacific Lumber berganti nama menjadi PT Barito Pacific Lumber. Perlahan demi perlahan, bisnis kayunya berkembang sangat pesat.  Di tangan Prajogo, PT Barito Pacific Lumber berkembang. Ia memperoleh HPH di Sumatera Selatan, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua serta menguasai 5,5 juta hektare di seluruh Indonesia. Pada dekade 80-an, PT Barito Pacific Lumber berhasil melakukan eskpansi bisnis hingga memiliki lebih dari 20 anak perusahaan. Di era 90-an, bisnisnya kembali berkembang dengan menaungi 120 perusahaan yang bergerak dalam bidang petrokimia, real estate, taman industri, dan transportasi laut. Kedekatan Prajogo dengan keluarga Cendana kala itu membuatnya tdak tersentuh dengan hukum. Meskipun bisnisnya sempat tersandung karena peraturan ekspor kayu gelondong tahun 1980, namun Prajogo bisa mengatasinya. Dari pinjaman Credit Lyonais Bank Prancis sebesar 150 jta Franc, ia membangun perusahaan pengolahan kayu, yakni pabrik sawmill dan plywood sekaligus menjadi cikal bakal Barito Pacific Timber (BPT). Pertengahan 80 an, ia berkongsi dengan putri tertua Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut dalam mengelola perusahaan-perusahaan di Sumatera seperti PT Enim Musi Lestari, Perkebunan Hasil Musi Lestari, dan Gandaerah Hendana. tahun 1991, keduanya kembali mendirikan PT Musi Hutan Persada. Tahun 2007, ia mendiversikan bisnisnya karena bisnis kayu dianggap tidak lagi bagus di Indonesia. Ia kemudian mengangkat nama Lumber di perusahaan yang dipimpinnya hingga menjadi PT Barito Pacific. Karena perubahan nama tersebut, PT Barito Pacific meluaskan bisnisnya ke berbagai sektor seperti petrokimia, properti, minyak sawit mentah, energi, transportasi hingga logistik.  Krisis tahun 1998 kala itu sempat menghambat bisnisnya hingga membuat nilai kapitalisasi Barito Pacific turun dari US$ 5 miliar ke nilai US$ 3 juta. Tak hanya itu, perusahaan petrokimia Chandra Asri yang sudah diakuisisi sekitar 70 persen oleh Barito Pacific di Bursa Efek Indonesia pun ikut menanggung hutang sebanyak US$ 1,8 miliar. Semua utang perusahaan dalam bentuk dolar meningkat drastis akibat nilai tukar rupiah yang merosot. Situasi tersebut tidak membuat Prajogo menyerah begitu saja. Ia berusaha keras mengembalikan perusahaan-perusahaannya seperti semula.

Baca juga : Dita Soedarjo

Kebangkitan Bisnis Prajogo Pangestu

Kebangkitan Bisnis Prajogo Pangestu

Usaha tersebut tidak sia-sia, bisnisnya semakin hari semakin meningkat. Banyak kerja sama yang ia lakukan salah satunya dengan anak-anak Presiden Soeharto demi memperluas jaringan bisnisnya. Bisnis Barito Group tak hanya fokus pada bidang petrokimia saja, namun meluas hingga produksi minyak sawit mentah, properti, serta perkayuan. Tahun 2008, Barito kembali mengakuisisi PT Tri Polyta Indonesia Tbk. Chandra Asri pun kemudian merger dengan Tri Polyta Indonesia tahun 2011 dan disebut-sebut sebagai produsen petrokimia terbesar di Indonesia. Sementara pada 2015 yang lalu, Chandra Asri Petrochemical kembali melakukan kerja sama dengan pabrik ban Prancis Michelin guna memperluas pabrik karet sintesis di dalam negeri.

Baca juga : Ahmad Sahroni

Kekayaan Prajogo Pangestu

Kekayaan Prajogo Pangestu

Majalah Forbes tahun 2019 kembali merilis daftar orang terkaya di Indonesia. Dan ya, salah satu orang terkaya yang masuk dalam daftar tersebut dan berada di urutan ketiga dalah Prajogo Pangestu. Ia memiliki nilai kekayaan sebesar 7,6 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 106 triliun rupiah. Kekayaannya meningkat seiring dengan meningkatknya saham Barito Pacific. Selain itu, pada Agustus lalu, Prajogo mendapatkan penghargaan dari Presiden Jokowi berupa Bintang Jasa Utama. Penghargaan tersebut adalah suatu kehormatan dari Negara Republik Indonesia kepada warga sipil karena dedikasi dan pelayanannya kepada Negara. Prajogo mendapatkan penghargaan tersebut karena ia berhasil mengembangkan industri petrokimia dan panas bumi Indonesia. Ia menuturkan, untuk mendapatkan penghargaan Bintang Jasa Utama perlu adanya kerja keras panjang dan amat melelahkan. Komitmennya pada negara benar-benar besar. Prajogo akan terus mengabdi pada bangsa dan negara agar energi panas bumi sebagai clean energy dan petrocehmical center di Indonesia terus berkembang.

Baca juga : Edwin Soeryadjaya

Tidak disangka bukan, perjalanan hidup yang awalnya sebagai sopir angkot telah menjadikannya sebagai seorang miliader Indonesia. Dari kisah Prajogo Pangestu yang luar biasa telah mengajarkan banyak hal. Jatuh bangun dalam membangun usaha akan selalu ada. Namun, saat setiap hambatan bisa dilalui dengan baik dan mampu bangkit dari kegagalan, maka itulah kunci kesuksesan sebenarnya. Demikian ulasan lengkap kisah sukses Prajogo Pangestu. Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close