Bisnis

√ Philip Morris (PM) : Raja Rokok Terbesar Dunia

Philip Morris (PM) adalah raja bisnis rokok di dunia. Marlboro atau Sampoerna sebagai brand rokok ternama di Indonesia adalah milik PM. Tahun 2005, 40% saham PT HM Sampoerna diakusisi dan saat ini sudah mencapai 100%. Hal ini PM bisa membuat menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaan, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), dan Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala  macam produk hasil tembakau dijual mulai dari rokok put, kretek hingga rokok elektrik. Bagaimana perjalanan Philip Morris (PM) sejak awal berdiri hingga menemui masa kejayaan menjadi produk rokok terbesar di dunia? Simak baik-baik ya.

√ Philip Morris (PM) : Raja Rokok Terbesar Dunia
√ Philip Morris (PM) : Raja Rokok Terbesar Dunia

Awalnya hanya toko kecil yang dibuka di London, Inggris tahun 1847, Philip Morris berubah menjadi perusahaan raksasa berskala internasional. Toko tersebut dikelola oleh penjual tembakau asal Inggris bernama Philips Morris. Usaha rokok tersebut diturunkan dan diteruskan kedua anaknya hingga pada akhirnya diakuisisi tahun 1919 menjadi perusahaan rokok di Amerika Serikat. Seiring dengan perkembangannya, perusahaan tersebut menjelma sebagai salah satu raksasa global yang memasarkan produknya d 180 negara. PM menjadi perusahaan internasional terkemuka di dunia dengan mempekerjakan lebih dari 81.000 karyawan dengan berbagai latar belakang di berbagai penjuru dunia. PM berusaha keras menjadi perusahaan yang bertanggung jawab kepada lingkungan alam dan sosial. Selain itu, PM berdedikasi tinggi kepada pemberantasan perdagangan rokok secara illegal. Dukungan PM diberikan penuh terhadap masyarakat dimana perusahaan mengambil pasokan tembakau, juga dimana karyawan tinggal dan bekerja. 6 dari 15 merek internasional terbaik yang beredar luas di lebih 180 pasar dunia adalah merek PM, termasuk Marlboro sebagai produk nomor satu di dunia.

Kejayaan Bisnis Philip Morris

√ Philip Morris (PM) : Raja Rokok Terbesar Dunia

Kegiatan bisnis PT Philip Morris di Indonesia dimulai sejak bulan April 1984 silam untuk memproduksi dan mendistribusikan produk-produk di bawah lisensi. Rokok Marlboro adalah produk andalan Philip Morris. Berkat adanya produk tersebut, PM bisa meraup keuntungan dan populer di mata banyak orang. Meskipun didaftarkan sejak 1908, namun merek Marlboro mulai dikenal tahun 1920-an. Sekarang, merek dagang ini tidak hanya tersemat pada bungkus rokok saja, tetapi melekat sebagai salah satu produk sponsor ajang F1 atau MotoGP. Kegiatan produksi sendiri mulai dilakukan sejak Mei 2006 di Bekasi, Jawa Barat. Perusahaan yang mengakuisisi mayoritas saham PT HM Sampoerna Tbk pada bulan Mei 2005 hingga 92,50% tersebut, kini telah memproduksi berbagai macam merek rokok. Rokok tersebut memenuhi penjualan domestik dan keperluan ekspor di 8 produksi pabrik yang berbeda. Empat anak perusahaan yang melaksanakan bisnis tembakau di bawah naungan Philips Morris International adalah Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), dan Papastratos Philip Morris International (Yunani). Selain menguasai 107.594.221.125 lembar atau sekitar 92,5% saham Sampoerna,  Philip Morris diketahui mulai menawarkan saham perdana ke publik sejak tahun 2008 silam. Nama perusahaan tersebut tercatat di bursa New York Stock Exchange dengan kode PM tepat tanggal 28 Maret 2008. Sejak saat itu, pergerakan harga saham PM terus naik hingga kapitalisasi pasar atau nilai perusahaannya meningkat mencapai US$ 113, 14 miliar atau setara dengan Rp 1.608 triliun rupiah. Sebagai perusahaan rokok multinasional yang memasarkan dagangan ke berbagai negara, PM memiliki modal tidak terbatas. Dari data Fortune, Philips Morris International melaporkan pendapatan di tahun 2018 sebesar US$ 29,62 miliar atau sekitar Rp 421 triliun. Sedangkan, keuntungan yang dibukukan sebesar US$ 7,91 miliar atau setara dengan Rp 112 triliun.

Mulai Memproduksi Kretek

√ Philip Morris (PM) : Raja Rokok Terbesar Dunia

Dari data kekayaan tersebut bisa dipastikan jika kekuatan modal PM sangatlah besar apalagi ditambah dengan 4 perusahaan di bawah naungannya. Modal tersebut bisa membuat PM dapat melakukan apa saja, termasuk merebut kretek dari Indonesia. Awalnya, PM memang memiliki barang dagangan berupa produk kretek, tetapi masih diperdagangkan dengan brand anak perusahaannya, Sampoerna. Tak hanya itu, PM juga masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild dan lainnya. Merasa tak puas akan hal itu, PM menunjukkan eksistensinya sebagai bos besar perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa membawa brand Sampoerna. Seperti diketahui, baru-baru ini produk kretek terbaru bernama Philip Morris Bold Kretek Filter muncul ke permukaan. Memang tak ada yang salah dari munculnya produk ini sebab cara menjualnya pun legal. Masalahnya, kretek adalah produk kebudayaan khas Indonesia. Saat ini, kretek bukan hanya dikuasai secara bisnis, namun entitasnya ingin dikuasai PM. Menurut sosiolog Suhardi Suyardi, kretek merupakan produk khas negara tertentu sebab tidak semua negara mampu membuatnya apalagi meniru. Jika pun ingin meniru, tak akan bisa menggantikan trade marknya karena telah melekat di negara pertama yang membuatnya. PM sudah berada di tahap meniru dengan meluncurkan produk Philip Morris Kretek sehingga menghilangkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia.  Tak akan mustahil, jika nantinya PM akan mematenkan kretek secara nama dan produk. Apabila PM sudah mematenkan kretek, maka setiap orang atau perusahaan menggunakan kata kretek, maka produk turunannya memiliki kewajiban untuk membayar royalti kepada PM. Miris bukan jika orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional malah membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri? Bukannya diam, namun KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya telah menerka bahwa persoalan ini akan terjadi. Oleh karena itu, tahun 2014 lalu, KNPK bergerak dengan mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia lewat naskah akademis “Kretek Sebagai Warisan Budaya Indonesia” kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Namun, saat itu pemerintah menolak karena intervensi dari kelompok antirokok yang begitu besar dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya. Manuver-manuver PM tidak bisa dianggap sepele. Mungkin saa ini PM terlihat seperti sedang bermain-main inovasi, tetapi ke depannya manuver-manuver lain akan dilakukan PM untuk merebut kretek. Sebab, demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan oleh perusahaan multinasional tersebut.

Baca juga : Platform Trading Forex Terbaik

Dari total penjualan PMI sepanjang tahun 2018 yang mencapai US$ 29,6 miliar atau naik dari tahun sebelumnya sebesar US$ 28,7 miliar membuat PM semakin perkasa sebagai perusahaan terbesar di dunia. Menariknya, Indonesia adalah negara penyumbang pendapatan terbesar bagi Philips Morris International. Tahun 2018, total penjualan Philips Morris International di Indonesia adalah sebesar US$ 101, 4 miliar. Kemudian disusul oleh negara Rusia yang memiliki penjualan sebesar US$ 68 miliar. Sementara, Jepang menyumbang pendapatan pada Philips Morris International sebesar US$ 52,3 miliar. Sejumlah pangsa-pangsa produk tembakau yang berada di bawah naungan PMI mencapai 33% di tahun 2018. Demikian kisah kejayaan Philip Morris sejak awal berdiri hingga menjadi perusahaan rokok terbesar di dunia. Semoga artikel ini bermanfaat.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close