Pendidikan

Pengertian Hikayat – Jenis, Ciri, & Contoh

Pernahkah kamu mendengar kata hikayat?. Tentu dalam ilmu pengetahuan hikayat memiliki arti sendiri. Mungkin juga pengertian hikayat sendiri mungkin kurang familiar atau asing di telingamu. Karena hikayat merupakan salah satu bentuk karya sastra lama yang umum sangat sepi peminatnya. Namun begitu, bukan tidak bagus karya tersebut.

Baca juga : Puisi Roman Picisan

Pengertian Hikayat – Jenis, Ciri, & Contoh

Untuk itu kali ini kita akan membahas mengenai contoh hikayat dan juga pengertiannya yang bisa kamu ketahui, seperti di bawah ini:

Pengertian Hikayat

Pengertian Hikayat - Jenis, Ciri, & Contoh
Pengertian Hikayat – Jenis, Ciri, & Contoh

Hikayat sendiri adalah sebuah bagian dari suatu karya sastra lama yang berbentuk prosa dan berisi tentang kehidupan dari kaum bangsawan atau orang ternama dengan segala kehebatan, seperti keluarga istana, kehebatan dan kesaktian ataupun kepahlawanannya. Dan juga menceritakan tentang kekuatan, mukjizat dan segala keanehannya.

Baca juga : Kumpulan Syair

Kata hikayat yang berasal dari bahasa Arab, yaitu haka yang artinya bercerita atau menceritakan. Kegunaan hikayat sebagai pembangkit semangat, penghibur atau pelipur lara, atau hanya untuk meramaikan suatu pesta.

Hikayat juga bentuknya mirip dengan cerita sejarah yang isinya terdapat hal yang tidak masuk akal dan penuh dengan keajaiban

Jenis Hikayat

Pengertian Hikayat - Jenis, Ciri, & Contoh
Pengertian Hikayat – Jenis, Ciri, & Contoh

Hikayat dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu berdasarkan kategori isi dan kategori asalnya. Berdasarkan kategori isi hikayat terbagi menjadi :

  • Epos India
  • Cerita Asal Jawa
  • Cerita Rakyat
  • Sejarah dan Biografi
  • Cerita Islam
  • Cerita Bertingkat

Sedangkan berdasarkan kategori asalnya, hikayat terbagi menjadi 4 klasifikasi, yaitu:

  • Pengaruh Jawa
  • Melayu Asli
  • Pengaruh Hindu
  • Pengaruh Persia

Dari penjelasan diatas dapat diketahui jika hikayat dipengaruhi dari beberapa wilayah seperti Arab, Persia, Melayu, India, serta Jawa. Banyak contoh hikayat yang sangat dikenal dan melegenda sampai saat ini seperti Seribu Satu Malam, Sri Rama, Panji Semirang, Hang Tuah, dan sebagainya.

Baca juga : Contoh Cerpen

Ciri Hikayat

Pengertian Hikayat - Jenis, Ciri, & Contoh
Pengertian Hikayat – Jenis, Ciri, & Contoh

Jika ditinjau dari struktur bahasa, penulisan hikayat memiliki ciri tertentu, antara lain sebagai berikut :

  1. Anonim, pengarangnya tidak diketahui
  2. Statis, tidak mengandung banyak perubahan, tetap
  3. Istana sentris, atau berlatar belakang cerita kerajaan
  4. Kolektif dan komunal
  5. Tradisional, biasanya mengandung tradisi dan budaya dari wilayah tertentu
  6. Menggunakan pengulangan bahasa
  7. Bersifat edukasi,
  8. Selalu menceritakan kisah antara kebaikan yang menang melawan kejahatan
  9. Berupa khayalan

Contoh Cerita Hikayat

Pengertian Hikayat - Jenis, Ciri, & Contoh
Pengertian Hikayat – Jenis, Ciri, & Contoh

1. Hikayat Panji Semirang

Pada zaman dahulu Alkisah ada seorang raja di Tanah Jawa yang merupakan empat bersaudara. Yang tua menjadi raja di Kuripan, yang muda menjadi raja di Daha, yang tengah menjadi raja di Gegelang, dan yang bungsu menjadi raja di Singasari. Mereka berempat bersaudara dan saling menyayangi satu sama lain. Negeri tempat mereka tinggal sangat ramai dan termasyur. Begitu banyak pedagang-pedagang asing yang telah masuk untuk berniaga di dalam negeri itu.

Baca juga : Contoh Gurindam

Awal mula dari seseorang yang bernama Nata Kuripan dengan selirnya yang mempunyai nama Paduka Mahadewi. Mereka memiliki anak laki-laki yang sangat tampan rupanya. Dari wajahnya sudah terlihat jejak-jejak keagungan dari ayahnya. Dan sejak saat itu, diberinyalah inang pengasuh serta tanah di Karang Banjar Ketapang. Adapun Orang sering menyebut anak tersebut dengan sebutan Raden Banjar Ketapang.

Permaisuri Kuripan yang mengetahui itu, juga ingin mempunyai anak laki-laki yang baik parasnya. Ia pun mendiskusikannya dengan suaminya. Setelah beberapa lama, mereka memutuskan untuk menyembah segala dewa-dewa selama 40 hari 40 malam agar keinginannya dikabulkan.

2. Hikayat Si Miskin

Pada Suatu hari ada sepasang suami istri yang dikutuk menjadi miskin, melahirkan seorang anak yang bernama Marakarma. Sejak anak itu lahir, keduanya pun mulai hidup berkecukupan. Kemudian, seorang ahli nujum telah meramalkan bahwasannya Marakarma akan membawa sial teruntuk keluarganya. Ayah Murakarma pun meyakini hal tersebut dan sang anak pun dibuangnya ke suatu tempat. Sejak anaknya dibuang, hidup Ayah Murakarma justru semakin miskin lagi melarat.

Di tempat lain, Murakarma yang terbuang belajar berbagai kesaktian di tempat pembuangannya. Tanpa bukti yang jelas, ia dituduh telah melakukan pencurian, dan dia pun dibuang ke lautan dan terdampar di pantai. Saat terdampar di pantai, dia bertemu dengan seorang putri yang bernama Putri Cahaya. Sang putri tersebut telah menyelamatkan hidup Murakarma. Sejak saat itu, Murakarma pun mencoba pulang ke kampung halamannya. Saat di perjalanan, Dia selalu mendapatkan kesialan, sekaligus keberuntungan demi keberuntungan.

3. Hikayat Bunga Kemuning

Dahulu kala, ada seorang anak raja yang memiliki 10 orang putri yang dia beri nama dengan berbagai nama-nama warna. Istri sang raja sendiri sudah lama sekali wafat usai melahirkan anak bungsu mereka, Putri Kuning. Sangat berbeda dari anaknya yang lain, Putri Kuning ini mempunyai perilaku yang amat baik, tidak seperti kakaknya yang bandel dan manja.

Suatu ketika, sang rasa hendak pergi ke suatu daerah untuk suatu keperluan. Ke-9 putri-putrinya meminta dibawakan oleh-oleh yang mewah dari sang raja. Sedangkan, Putri Kuning tidak meminta apa pun, dan hanya berharap agar sang raja pulang dengan selamat.

Singkat kata, sang raja pulang membawa hadiah dan memberikannya kepada putri bungsunya, yaitu Putri kuning. Lalu putrinya yang lain beserta saudara-saudaranya merasa cemburu dan mempunyai niat untuk memberikan pelajaran kepada adik mereka.

Tanpa sepengetahuan sang raja, Putri Kuning dipukul oleh kakak-kakaknya hingga meninggal dan dikuburkan di tempat yang tak jauh dari istana. Mengetahui anaknya telah menghilang, sang raja pun mencari-cari putri bungsunya, tetapi tak jua ditemukan.

Suatu hari, sang raja melihat bunga yang berwarna kuning tumbuh pada sebuah tanah. Ternyata, tanah itulah tempat  dikuburkannya anak bungsu raja. Melihat bunga tersebut, sang raja pun segera menamainya dengan bunga kemuning.

4. Hikayat Amir

Dahulu kala di Sumatra, hiduplah seorang saudagar yang bernama Syah Alam. Syah Alam mempunyai seorang anak bernama Amir. Amir tidak uangnya dengan baik. Setiap hari dia membelanjakan uang yang diberi ayahnya. Karena sayangnya pada Amir, Syah Alam tidak pernah memarahinya. Syah Alam hanya bisa mengelus dada.

Lama-kelamaan Syah Alam jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin parah. Banyak uang yang dikeluarkan untuk pengobatan, tetapi tidak kunjung sembuh. Akhirnya mereka jatuh miskin.

Penyakit Syah Alam semakin parah. Sebelum meninggal, Syah Alam berkata”Amir, Ayah tidak bisa memberikan apa-apa lagi padamu. Engkau harus bisa membangun usaha lagi seperti Ayah dulu. Jangan kau gunakan waktumu sia-sia. Bekerjalah yang giat, pergi dari rumah.Usahakan engkau terlihat oleh bulan, jangan terlihat oleh matahari.”

”Ya, Ayah. Aku akan turuti nasihatmu.”              

Sesaat setelah Syah Amir meninggal, ibu Amir juga sakit parah dan akhirnya meninggal. Sejak itu Amir bertekad untuk mencari pekerjaan. Ia teringat nasihat ayahnya agar tidak terlihat matahari, tetapi terlihat bulan. Oleh sebab itu, kemana-mana ia selalu memakai payung.

Pada suatu hari, Amir bertemu dengan Nasrudin, seorang menteri yang pandai. Nasarudin sangat heran dengan pemuda yang selalu memakai payung itu. Nasarudin bertanya kenapa dia berbuat demikian.

Amir bercerita alasannya berbuat demikian. Nasarudin tertawa. Nasarudin berujar, ” Begini, ya., Amir. Bukan begitu maksud pesan ayahmu dulu. Akan tetapi, pergilah sebelum matahari terbit dan pulanglah sebelum malam. Jadi, tidak mengapa engkau terkena sinar matahari. ”

Setelah memberi nasihat, Nasarudin pun memberi pijaman uang kepada Amir. Amir disuruhnya berdagang sebagaimana dilakukan ayahnya dulu.

Amir lalu berjualan makanan dan minuman. Ia berjualan siang dan malam.Pada siang hari, Amir menjajakan makanan, seperti nasi kapau, lemang, dan es limau. Malam harinya ia berjualan martabak, sekoteng, dan nasi goreng. Lama-kelamaan usaha Amir semakin maju. Sejak it, Amir menjadi saudagar kaya.

Demikianlah pembahasan materi tentang contoh hikayat ini, semoga artikel ini dapat bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan serta wawasan kita semua.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close