Pendidikan

√ Pengertian Essay Beserta Contohnya

Essay merupakan salah satu jenis ‘seni’ tulis yang telah dikenal oleh banyak orang. Beberapa diantaranya yang paling memahami soal penulisan essay adalah pelajar dan mahasiswa. Mengapa demikian? Berikut adalah uraian singkat mengenai pengertian dan contoh essay yang bisa dijadikan rujukan sebagai dasar penulisan essay itu sendiri.

Baca juga : Struktur Penulisan Essay

Pengertian Essay

√ Pengertian Essay Beserta Contohnya
√ Pengertian Essay Beserta Contohnya

Essay merupakan karnagan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas melalui sudut pandang pribadi penulis. Masalah yang ditulis biasanya seputar masalah sehari – hari atau isu tentang lingkungan hidup, politik, pendidikan dan sebagainya. Essay ada yang bersifat formal dan informal dimana keduanya tergantung dari penugasan pembuatan esaai yang diberikan. Essay dengan sifat informal biasanya menggunakan kata ganti aku dan jauh lebih luwes serta random. Sedangkan essay yang bersifat formal lebih kaku dan terstruktur.

Baca juga : Teks Deskripsi

√ Pengertian Essay Beserta Contohnya
√ Pengertian Essay Beserta Contohnya

Melalui pengertian yang telah disampaikan, essay bisa jadi merupakan salah satu bentuk pendapat penulis terhadap suatu hal yang ia amati. Sebenarnya bukan hanya pelajar dan mahasiswa saja yang boleh menulis essay. Tidak seperti laporan tugas akhir atau laporan penelitian yang hanya ditulis oleh mahasiswa dan pelajar, kalangan umum juga boleh menulis essay sesuai dengan tema yang diinginkan. Tema yang diangkat biasanya merupakan hal atau peristiwa yang sedang marak diperbincangkan.

Baca juga : Abstrak

Contoh Essay Tentang Pendidikan

√ Pengertian Essay Beserta Contohnya
√ Pengertian Essay Beserta Contohnya

Memasuki abad ke-21 Bangsa Indonesia dihadapkan pada isu krusial terkait globalisasi. Dalam hal ini perubahan globalisasi memberikan dampak yang luar biasa terhadap proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Globalisasi pada dasarnya telah memberi jalan bagi terhubungnya kebudayaan Indonesia dengan kebudayaan manapun di dunia. Namun, kapitalisme dan konsumerisme menjadi titik dominan dalam globalisasi. Pemujaan terhadap gaya hidup yang ‘modern’ dan kapitalis memiliki kecenderungan untuk menggeser nilai kearifan lokal.

Bahkan di tingkat badan pelaksana pendidikan kondisi memprihatinkan masih menggelayuti. Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menunjukkan ketidaksinambungan yang sangat terasa perbedaannya. Kemendikbud memiliki visi dan misi untuk menekankan peran pendidikan karakter berbasis kebudayaan dan prinsip gotong royong.

Sedangkan visi dan misi Kemristekdikti semata mengarah pada capaian kemajuan iptek tanpa adanya kemajuan pada pengembangan nilai-nilai karakter. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berarti memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan berarti sebuah dorongan untuk mengembangkan kecerdasan pikiran dan akhlak yang mengarah pada karakter yang baik, bukan sekedar menyiapkan tenaga terampil yang menghamba pada sistem kapital. Strategi pembelajaran berbasis kearifan lokal harus menjadi titik pijak bagi proses pendidikan yang berkelanjutan.

Baca juga : Kerangka Makalah

Dampaknya, globalisasi telah memaksa kearifan lokal untuk menghadapi tantangan sebuah eksistensi. Kearifan lokal sudah seharusnya dinarasikan sebagai pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman sehingga nilai kebajikannya mampu menjawab berbagai permasalahan aktual, seperti persoalan keadilan, pendidikan yang memanusiakan, perbaikan moralitas manusia, dan pembelaan kaum marjinal.

Perkembangan pesat teknologi-komunikasi menjadi katalis bagi terwujudnya masyarakat yang saling terhubung. Pada tahun 2009 Jumlah pelanggan telpon mencapai 198.507.788 sambungan. Selain itu, saat tahun 2019 diperkirakan akan terdapat 133.5 juta pengguna internet di Indonesia, mangalami kenaikan 40.1 juta dibandingkan pada tahun 2015. Berbagai lonjakan keterhubungan ini menunjukkan kuatnya arus penetrasi teknologi dan perkembangan telekomunikasi.

Globalisasi harus dipandang sebagai kesempatan untuk menampilkan kepada dunia keunikan dan kekhasan nilai-nilai kearifan lokal. Nilai-nilai kearifan lokal hendaknya dimunculkan sebagai tawaran balik atas kekosongan yang ditimbulkan oleh globalisasi. Dalam kebudayaan tradisional di Indonesia peran kebersamaan sebagai komunitas, prinsip gotong royong, prinsip saling menerima dan menghargai harus lebih ditonjolkan. Melalui pendidikan prinsip-prinsip tersebut harus ditanamkan dalam kesadaran generasi-generasi baru.

Dalam konteks Indonesia, setiap etnis atau suku memiliki kearifan lokal sesuai dengan kondisi kebudayaan masing-masing. Hal ini menjadi keunggulan sekaligus tantangan dalam merumuskan suatu nilai kearifan lokal bersama. Merancang suatu strategi pembelajaran yang terintegrasi hanya dengan mengedepankan nilai kearifan lokal khusus jelas merupakan hal yang mustahil.

Dalam kearifan lokal terkandung prinsip lokalitas, yakni setiap daerah memiliki nilai-nilai kearifan masing-masing. Strategi pembelajaran yang baik hendaknya berangkat dari keberagaman ini. Setiap daerah wajib menempatkan nilai kearifan lokal dalam pembelajaran generasi mudanya, meskipun hal ini akan berkonsekuensi munculnya beragam bentuk pembelajaran dalam tingkat praktis.

Perkembangan zaman menuntut adanya suatu nilai-nilai sosial yang lebih universal dan terbuka. Nilai-nilai kearifan lokal harus dapat diuniversalkan apabila eksistensinya ingin tetap diakui. Konsekuensi globalisasi adalah adanya kesalingterhubungan, artinya tidak ada suatu masyarakat yang terisolasi, kecuali dalam kasus-kasus tertentu. Oleh karena itu, kearifan lokal harus dapat mengambil nilai-nilai universal yang terkandung dalam tradisi setempat sehingga mampu menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi manusia masa kini.

Baca juga : Artikel Ilmiah

Perkataan Francis Bacon, knowledge is power, mengungkapkan bagaimana alam dapat ditundukkan manusia dengan mengikuti hukum-hukumnya. Perkataan itu menandai masuknya manusia pada zaman modern, yakni penguasaan manusia atas alam. Auguste Comte, seorang sosiolog, membagi tahapan perkembangan masyarakat menjadi tiga, yakni: pertama, tahap teologis, yang menekankan pada kekuatan supernatural dan tokoh agamis. Kedua, tahap metafisik, yang ditandai dengan kepercayaan adanya daya-daya abstrak seperti “alam”. Ketiga, tahap positivistik, ditandai dengan kepercayaan pada ilmu. Pada perkembangannya proses alienasi itu terlahir akibat pendewaan masyarakat atas ilmu-ilmu positivistik. Dalam proses alienasi itu, manusia dianggap tidak lebih dari objek yang dapat dikuasai.

Wacana kemajuan memberikan dampak luas bagi manusia. Fakta menunjukkan bahwa perkembangan manusia justru semakin kabur, dan menjauh dari wacana kemajuan tersebut. Krisis ekonomi, krisis moral, eksploitasi alam dan manusia, semua itu buah dari proses alienasi manusia. Kini menjadi pertanyaan, dapatkah kearifan lokal mampu menjawab permasalahan-permasalahan itu? Kearifan lokal hendaknya mampu menempatkan diri sebagai landasan pijak, dan mengantisipasi kehidupan di masa mendatang. Oleh karena itu, kearifan lokal tidak cukup dengan membakukan nilai-nilai yang selama ini diyakini. Kearifan lokal sendiri harus terbuka untuk didiskusikan sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat mencakup permasalahan yang aktual dan mencakup wilayah yang luas.

Upaya perumusan strategi pembelajaran berdasarkan kearifan lokal tidak sekedar menghasilkan manusia unggul dan mandiri sesuai dengan proses baku. Istilah “unggul dan mandiri” hendaknya tidak direduksi menjadi capaian berbasis prestasi akademis maupun sekedar keterampilan teknis. “unggul dan mandiri” hendaknya menjadi tanda suatu generasi yang mampu bersikap kritis sekaligus mandiri atas godaan zaman yang cenderung mengaburkan makna manusia. Karakter kritis dan peka harus ditanamkan melalui pendekatan berbasis humanisme, contohnya tinggal bersama dalam komunitas masyarakat tertentu, mengadakan bakti sosial dan anjang sana ke panti sosial, serta turut terlibat dalam kehidupan budaya para seniman.

Strategi pembelajaran juga perlu memberikan ruang diskusi bagi proses dialog. Kecenderungan membakukan nilai-nilai kearifan justru membuat kearifan semakin partikular dan terbatas. Di setiap kebudayaan di Indonesia, selalu terdapat ruang publik di mana para warganya mampu berdialog bersama untuk mencari mufakat. Tradisi ini menjadi modal penting dalam menciptakan suatu strategi pembelajaran yang mencakup banyak kebudayaan. Dengan demikian, prinsip keterbukaan dan toleransi harus ditumbuhkan melalui forum diskusi antarpembelajar baik lintas institusi maupun lintas daerah.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close