Pendidikan

√ Kumpulan Puisi Ibu dari Penyair Terkenal

Tidak ada sesuatu apapun yang bisa menjelaskan kasih sayang seorang Ibu secara utuh dan sempurna. Sebab kasih ibu adalah hal yang terlalu indah bila diungkapkan dengan kata-kata. Namun, tak ada salahnya jika kita ingin mengungkapkan rasa sayang kepada Ibu melalui puisi yang indah. Berikut adalah beberapa kumpulan puisi tentang Ibu dari para penyair terkenal. Puisi ini bisa Anda tulis ulang dalam kartu ucapan untuk diberikan kepada Ibu maupun menjadi inspirasi Anda menulis puisi baru. Simak baik-baik ya.

Beberapa Kumpulan Puisi Ibu

Berikut beberapa kumpulan puisi Ibu yang bisa Anda jadikan referensi, diantaranya adalah:

M.H. Ainun Najib

M.H. Ainun Najib

Puisi Bunda Airmata

Bunda Airmata
Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan air mata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih, Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan
Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun untuk membuat Tuhan
naik pitam pada hidupmu
Kalau Ibundamu menangis, para malaikat menjelma
butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dari air mata Ibunda
membuat para malaikat silau dan marah kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu sorga bagimu

Baca juga : Kumpulan Puisi Kemerdekaan

Widji Tukul

Widji Tukul

Puisi Sajak Ibu

Sajak Ibu
Ibu pernah mengusirku minggat dari rumah
Tetapi menangis ketika aku susah
Ibu tak bisa memejamkan mata
Bila adikku tak bisa tidur karena lapar
Ibu akan marah besar
Bila kami merebut jatah makan
yang bukan hak kami, Ibuku memberi pelajaran keadilan
dengan kasih sayang
Ketabahan ibuku
Mengubah rasa sayur murah menjadi sedap
Ibu menangis ketika aku mendapat susah
Ibu menangis ketika aku bahagia
Ibu menangis ketika adikku mencuri sepeda
Ibu menangis ketika adikku keluar penjara
Ibu adalah hati yang rela menerima, selalu disakiti oleh anak-anaknya
Penuh maaf dan ampun
Kasih sayang Ibu adalah kilau sinar kegaiban Tuhan, meningkakatkan haru insan dengan kebijakan
Ibu mengenalkan aku kepada Tuhan

Baca juga : Kumpulan Puisi Romantis

Chairil Anwar

Chairil Anwar

Puisi Ibu

Puisi Ibu
Pernah aku ditegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai
Ibu………….
Pernah aku merajuk
Katanya aku manja, pernah aku melawan
Katanya aku degil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah
Ibu………….
Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa, dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
dan bila aku mencapai kejayaan
Dia kata bersyukurlah kepada Tuhan
Namun…………….
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu
Ibu………
Aku sayang padamu
Tuhanku………..
Aku bermohon padaMu
Sejahterakanlah dia
Selamanya……….

Baca juga : Kumpulan Puisi Pahlawan

Kahlil Gibran

Kahlil Gibran

Puisi Ibu

Ibu
Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan, pemberi semangat di dalam penderitaan dan pemberi kekuatan di dalam kelemahan
Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati, dan pengampunan
Manusia yang kehilangan ibunya berarti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat dan menjaganya tanpa henti
Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang sosok Ibu
Matahari adalah ibu dari planet bumi yang memberikan makanannya
dengan pancaran panasnya
Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari sampai matahari
meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-burung dan anak-anak sungai
Dan bumi adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bungaan menjadi ibu yang baik
bagi buah-buahan dan biji-bijian
Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan adalah roh bekal, penuh dengan keindahan dan cinta

Baca juga : Kumpulan Puisi Guru

Raudal Tanjung Banua

Raudal Tanjung Banua

Puisi Bulan untuk Ibu

Bulan untuk Ibu
Ibu, di tubuhmu yang tabu buntuk kusentuh
Kulabuhkan ingatan keparat dan menyesakkan demi sebait puisi yang menjadikan engkau bulan
Akan bangkir gairah yang runtuh
Meski ajal dan kepulangan terlanjur sudah dijanjikan
Tungku-tungku telah dinyalakan
Kutu-kutu telah ditindas
dari rambut. Sagu-sagu telah ditebang
dari lahan gamut. Susu-susu sudah di peras
dari setiap daging yang tumbuh
Padi-padi telah ditumbuk
dari lumbung dan lesung
Lalu apalagikah yang belum genap
dari tubuhmu, Ibu?
Di tubuhmu bersarang seluruh
rangrang dan burung-burung luruh sayap. Pisau tak bersarung
Alu yang berderap. Pun sepatu dan debu
Bumbu- bumbu dan warung kopi penuh cakap
Tapi tidak tentang kepulangan! Biarlah Ibu.
kepulangan menjadi milikku seorang,
milik ajal dan gairah tak tertahankan
Agar bangkir segala yang runtuh, hingga tubuhmu tak lagi tabu aku sentuh
dengan tangan panjang kenanganku
Begitulah Ibu, tubuhmu menjelma jadi sepotong bahu
dalam arus pikiranku
hijau, telanjang, berlumut, terapung hanyut ke laut pengembara
Maka di ujung puisi ini, sebelum turun hujan
Kujadikan engkau bulan

Gus Mus

Gus Mus

Puisi Ibu

Ibu……….
Kaulah gua teduh
Tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
Dimana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
Yang bergelar lembut bagiku
Melepas lelah dan nestapa
Gunung yang menjaga mimpiku
Siang dan malam
Air mata yang tak hentinya mengalir
Membasahi dahagaku
Telagaku tempatku bermain, berenang, dan menyelam
Kaulah ibu, laut, dan langit
Yang menjaga lurus horisonku
Kaulah ibu, mentari, dan rembulan
Yang mengawal perjalananku mencari jejak surge di telapak kakimu
(Tuhan….
Aku bersaksi
Ibuku telah melaksanakan amanah-Mu
Menyampaikan kasih sayang-MU, maka kasihanilah ibuku
Seperti Engkau mengasihi kekasih-kekasih-Mu Amin

Zamawi Imron

Zamawi Imron

Puisi Ibu

Kalau aku merantau
Lalu datang musin kemarau
Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting, hanya air matamu Ibu
Yang tetap lancar mengalir
Bila aku merantau
Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
Di hati ada mayang siwalan memutihkan sari-sari kerinduan
Lantara hutangku padamu tak kuasa ku bayar
Ibu adalah gua pertapaanku
Ibulah yang meletakkan aku disini
Saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
Akupun mengangguk meski kurang mengerti
Bila kasihmu ibarat samudera
Sempit lautan teduh
Tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
Tempatku belayar, menebar pukat dan melembar sauh
Lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
Kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu, Ibu yang kan kusebut paling dahulu
Lantaran aku tahu
Engkau Ibu dan aku anakmu
Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala, sesekali datang padaku
Menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku

Memang tidak ada sesuatu apapun yang bisa menggambarkan betapa besar rasa sayang kita kepada Ibu. Tidak ada yang hal yang bisa mewakilinya. Namun, setidaknya dengan sebait puisi di atas, Anda bisa menunjukkan kepada Ibu bahwa cinta Anda begitu besar kepada Ibu. Demikian kumpulan puisi untuk Ibu. Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close