Pendidikan

Biografi Cut Nyak Dien [Lengkap]

Aceh memiliki sederet nama-nama tokoh perempuan terkemuka dalam hal kepemimpinan yang diangkat menjadi pahlawan nasional yang terkenal akan kegigihan dan keberaniannya dalam berjuang melawan penjajah. Beberapa sosok pahlawan perempuan yang terkenal memiliki peranan besar dalam mempertahankan kedaulatan Aceh yang terkenal dengan kegigihannya dalam melawan penjajah seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Pocut Meurah Intan, Pocut Baren, dan Laksamana Keumalahayati yang memiliki sebutan “Srikandi Aceh”. Dalam artikel ini akan dibahas salah satu pahlawan perempuan yang berusia lanjut tetapi masih tetap berani berjuang melawan pasukan Belanda hingga akhirnya ditangkap dan dibuang. Pahlawan perempuan tersebut bernama Cut Nyak Dien. Untuk itu, berikut ini akan dibahas secara lengkap mengenai biografi Cut Nyak Dien. Simak baik-baik ya!

Biografi Cut Nyak Dien [Lengkap]
Biografi Cut Nyak Dien [Lengkap]

Biodata Cut Nyak Dien

Nama Lengkap            : Tjoet Njak Dhien

Ejaan                           : Cut Nyak Dien

Tempat Lahir               : Lampadang, Aceh Besar

Tanggal Lahir              : Selasa, 1848

Agama                         : Islam

Warga Negara             : Indonesia

Suami                          : 1. Teuku Cek Ibrahim

                                      2. Teuku Umar

Anak                           : Cut Gambang

Biografi Singkat Cut Nyak Dien

Biografi Cut Nyak Dien [Lengkap]
Biografi Cut Nyak Dien [Lengkap]

A. Kehidupan Awal Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien merupakan salah satu pahlawan perempuan yang berasal dari Aceh yang memiliki keterkaitan dengan peristiwa perang Aceh melawan Belanda. Cut Nyak Dien lahir di dalam lingkungan keluarga bangsawan yang sangat taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Tidak diketahui secara pasti tanggal dan bulan lahir dari Cut Nyak Dien hanya tahun kelahirannya saja yang diketahui dengan jelas.  Ayahnya bernama Teuku Nanta Setia yang mana merupakan seorang uleebalang VI Mukim yang memiliki garis keturunan dengan Datuk Makhudum Sati, seorang perantau dari Minangkabau. Datuk Makhudum Sati sendiri merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan salah satu perwakilan dari Kesultanan Aceh.  Sedangkan ibu Cut Nyak Dien adalah seorang putri uleebalang Lampagar.  Dari garis keturunan ayahnya, Cut Nyak Dien termasuk keturunan langsung dari Sultan Aceh.

Pada masa kecilnya, Cut Nyak Dien terkenal sebagai salah satu anak perempuan yang memiliki wajah cantik sehingga banyak laki-laki yang menyukai dan berniat melamarnya. Cut Nyak Dien memperoleh pendidikan pada bidang agama dan rumah tangga yang berkaitan dengan memasak, melayani suami, maupun yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Pada saat usia 12 tahun, Cut Nyak Dien sudah dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan Teuku Cek Ibrahim, seorang putra dari uleebalang Lamnga XIII pada tahun 1862 dan dikaruniai satu anak laki-laki.

B. Perjuangan Cut Nyak Dien dalam melawan Belanda

Pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang pada Aceh yang dimulai dengan menembaki Aceh dengan meriam. Perang tahap pertama di Aceh terjadi pada tahun 1873 sampai dengan 1874 dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah dan Panglima Polim bertempur melawan Belanda yang saat itu dipimpin oleh Johan Harmen Rudolf. Pada perang tahap pertama ini dimenangkan oleh pihak Aceh yang mana pada saat itu Teuku Nanta Setia dan Teuku Cek Ibrahim  memimpin perang yang berada di garis depan untuk melawan Belanda yang mana pada saat itu senjatan di pihak Belanda lebih lengkap dan modern.

Kemenangan yang diraih Aceh tidak bertahan lama  karena tidak lama kemudian yaitu pada tahun 1874-1880 perang tahap dua dimulai. Perang tahap dua ini berhasil menaklukan wilayah Mukim VI yang mana  di wilayah tersebut merupakan tempat tinggal Cut Nyak Dien beserta anaknya. Dari peristiwa tersebut tepatnya pada tangga membuat Cut Nyak Dien, anaknya, dan para ibu rumah tangga lainnya  mengungsi tepat pada tanggal 24 Desember 1875. Sedangkan suaminya, Teuku Cek Ibrahim ikut berjuang melawan Belanda untuk merebut kembali wilayah Mukim VI. Namun naas bagi Teuku Cek Ibrahim karena beliau tewas di pertempuran tepat pada tanggal 29 Juni 1878. Kematian Teuku Cek Ibrahim memunculkan kemarahan dalam benak Cut Nyak Dien dan beliau bersumpah akan berjuang untuk menghancurkan pasukan Belanda tersebut.

Pada saat penguburan suaminya, beliau bertemu dengan Teuku Umar, salah satu tokoh pejuang Aceh. Teuku Umar berniat melamar Cut Nyak Dien. Pada awalnya lamaran itu ditolak tetapi pada akhirnya Cut Nyak Dien menerima lamaran tersebut setelah diizinkan untuk bertempur melawan Belanda. Semangat Cut Nyak Dien untuk membalaskan dendam dan mengusir Belanda dari Aceh begitu membara. Sistem perang yang digunakan Teuku Umar dalam melawan Belanda adalah gerilya yang mana Teuku Umar pura-pura menyerahkan diri dan bekerja sama dengan Belanda.

Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar beserta pasukannya pergi untuk menyerahkan diri ke Belanda. Tentunya hal tersebut membuat pihak Belanda senang. Akibat bergabungnya Teuku Umar dengan Beland,  rakyat Aceh menganggap jika Teuku Umara adalah penghianat. Cut Nyak Dien sebagai istri sudah menasehati agar Teuku Umar kembali ke sisi rakyat Aceh. Namun, Teuku Umar masih tetap berhubungan dengan Belanda. Perlahan tapi pasti, Teuku Umar mempelajari taktik dan strategi tentara Belanda serta mengganti beberapa tentara belanda yang berada di bawah kepemimpinanya dengan tentara Aceh. Selain itu, Teuku Umar juga mencuri beberapa senjatan lengkap milik Belanda. Setelah jumlah tentara Aceh yang berada di pasukannya cukup, Teuku Umar meinta izin untuk menyerang Aceh padahal itu hanya tipuannya saja. Teuku Umar berangkat dan tidak pernah kembali ke pihak Belanda.

Kejadian tersebut menimbulkan kemarahan dari pihak Belanda sehingga mereka melakukan operasi besar-besaran untuk menangkap Cut Nyak Dien dan Teuku Umar. Akhirnya Teuku Umar pun gugur dalam pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1989. Gugurnya Teuku Umar  membuat Cut Nyak Dien menjadi pemimpin pasukan dan kondisi pasukan tersebut semakin lemah. Hal itu berpengaruh pada kondisi Cut Nyak Dien yang semakin menurun. Akan tetapi pertempuran tetap dilaksanakan. Kondisi tersebut membuat seorang Panglima Perang yang bernama Pang Laot Ali memberikan usulan untuk menyerahkan diri. Akan tetapi, Cut Nyak Dien tetap gigih untuk melakukan pertempuran. Akhirnya tidak lama kemudian, Cut Nyak Dien berhasil di tangkap dan diasingkan di Pulau Jawa tepatnya di Sumedang, Jawa Barat pada tanggal 11 Desember 1905.

C. Kehidupan Masa Tua Cut Nyak Dien dan Meninggal

Setlah Cut Nyak Dien ditangkap, beliau dibawa ke Banda Aceh untuk melakukan perawatan. Penyakit yang di deritanya seperti encok dan rabun kian sembuh. Meskipun sudah ditanggap, tidak ada tanda-tanda dari Cut Nyak Dien untuk menyerahkan diri ke Belanda. Akhirnya Cut Nyak Dien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat karena Belanda merasa takut jika keberadaanya di Aceh memunculkan semangat rakya Aceh untuk kembali melakukan perlawanan. Di samping itu, Belanda juga takut jika Cut Nyak Dien masih berhubungan dengan pejuang-pejuang Aceh yang masih memiliki tekad untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda.

Cut Nyak Dien dibawa ke Sumedang bersama dengan para tahanan lainnya. Keberadaan Cut Nyak Dien di Sumedang berhasil menarik perhatian Bupati Sumedang yang bernama Suriaatmadja. Akan tetapi identitas dari Cut Nyak Dien sendiri tetap dirahasiakan oleh pihak Belanda. Cut nYak Dien ditahan di Sumedang bersama dengan seorang ulama yang bernama Ilyas. Ulama tersebut menyadari jika Cut Nyak Dien merupakan orang yang taat beragama dan cukup mengerti tentang ilmu agama Islam sehingga Cut Nyak Dien mendapatkan julukan sebagai “Ibu Perbu”. Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dien wafat di usianya yang sudah tua.

D. Makam Cut Nyak Dien

Makam dari Cut Nyak Dien baru ditemukan pada tahun 1959 setelah dilakukan pencarian atas perintah dari Gubernur Aceh yang bernama Ali Hasan. Pencarian tersebut dilakukan setelah mendapatkan data yang ditemukan di Belanda. Makam Cut Nyak Dien dilakukan pemugaran pertama pada tahun 1987. Makam beliau dilindungi oleh beberaoa pagar besi yang digabung dengan beton sebesar 1.500 m2. Batu nisan Cut Nyak Dien diberi beberapa hiasan, seperti tulisan dengan bahasa Arab, riwayat hidupnya, Surah Al-Fajr, At-Taubah, dan hikayat cerita rakyat Aceh. Biaya untuk merawat makan beliau didapatkan dari kotak amal karena pemerintah Sumedang sendiri tidak memberikan dana dan bantuan terkait biaya perawatan.

E. Penghargaan Cut Nyak Dien

  • Perjuangan Cut Nyak Dien dalam pertempuran melawan Belanda menarik perhatian dari seorang penulis Belanda yang bernama Ny. Szekly Lulof. Beliau sangat kagum atas kegigihan dari perempuan tersebut dan menjulukinya sebagai “Ratu Aceh”.
  • Berdasarkan SK Presiden RI No.106 tanggal 2 Mei 1964, Ibu Perbu atau Cut Nyak Dien diangkat oleh presiden Soekarno menjadi salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.
  • Tampaknya perjuangan Cut Nyak Dien juga di apresiasi dalam bidang seni.
    Terbukti dengan adanya film drama epos pada tahun 1988 yang berjudul Tjoet Nja’ Dhien yang mana Eros Djarot yang bertindak sebagai sutradara. Film ini mendapatkan Piala Citra sebagai film terbaik dan merupakan salah satu film Indonesia pertama yang mendapatkan kehormatan untuk tayang di Festival Film Cannes pada tahun 1989. Film ini dibintangi oleh Christine Hakim yang menjadi Tjoet Nja’ Dhien, Piet Burnama sebagai Pang Laot, Slamet Rahardjo sebagai Teuku Umar.

    Pada tanggal 13 April 2014 diadakan suatu pementasan untuk mengenang perjalanan hidup, kisah dan perjuangan Cut Nyak Dien yang dikemas dalam bentuk teater monolog yang dimainkan dan disutradari oleh satu orang yang sama yaitu Sha Ine Febriyanti. Pementasan teater monolog ini pertamakali dipentaskan di Auditorium Indonesia Kaya Kota Jakarta. Naskah monolog ini memiliki durasi 40 menit yang ditulis oleh Prajna Paramita. Kemudian pada tahun 2015, teater monolog ini kembali dipentaskan di Jakarta, Pekalongan, Semarang, Magelang, dan Banda Aceh. Selain itu, teater monolog ini juga direncanakan akan dipentaskan di negara Belanda dan Australia.
  • Ada sebuah kapal miliki TNI-AL diberi nama KRI Cut Nyak Dien
  • Mata uang negara Indonesia senilai Rp. 10.000 bergambar Cut Nyak Dien
  • Ada sebuah masjid kecil yang terletak di Aceh dan dekat dengan makamnya diberi nama “Masjid Cut Nyak Dien”.
  • Ada sebuah rumah panggung yang diberi nama “Rumah Cut Nyak Dien” yang mana rumah tersebut merupakan pemberian Belanda kepada Teuku Umar yang berlokasi di Aceh besar
  • Ada sebuah cerita gambar berseri di dalam majalah anak-anak yang bernama “Ananda” yang menceritakan biografi Cut Nyak Dien

Demikian informasi mengenai biografi Cut Nyak Dien. Artikel ini sebagai bentuk penghargaan dan cara kita mengenang perjuangan pahlawan Indonesia dalam pertempuran melawan penjajah untuk membebaskan negara dari tangan Belanda khususnya yang ada di wilayah Aceh. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda!

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close