Pendidikan

Apa Itu Pengertian Tawakal : Doa, Manfaat, Hikmah & Contoh

Dalam pengertian sederhana, tawakal bermakna “mewakilkan”, sedangkan secara lebih luas, tawakal yaitu menyerahkan segala permasalahan kepada Allah swt. Dengan sepenuh hati dan berpegang teguh kepada-Nya dan tetap berusaha semaksimal mungkin sehingga tidak merasa sedih dan kecewa terhadap apa pun keputusan yang diberikan-Nya.

Dimana Rasulullah menganjurkan senantiasa bertawakal kepada Allah. Dengan bertawakal kepada Allah maka setiap perbuatan akan diridai-Nya. Bahkan, Allah akan memberikan rezeki kepada orang yang bertawakal dengan sepenuh hatinya.

Baca juga : Apa Itu Ikhtiar ?

Apa Itu Pengertian Tawakal : Doa, Manfaat, Hikmah & Contoh

Perilaku tawakal yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya benar-benar menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan beliau menerapkan perilaku tawakal karena beliau sendiri melakukan hal sama. Dalam kehidupannya, Rasulullah SAW selalu berserah diri kepada Allah, ia tidak pernah gelisah dan resah dalam menghadapi berbagai macam persoalan hidup. Demikian juga seharusnya kita sebagai umat dan hamba Allah, selalu belajar untuk tetap tawakal dengan sebaik – baiknya. Berikut simak ulasan mengenai Pengertian Tawakal dan unsur lain yang bisa diketahui.

Baca juga : Doa Qunut

Tawakal Secara Umum

Tawakal Secara Umum

Tawakal merupakan tahapan saat seorang hamba telah melalui fase ikhtiar. Sebuah tahapan yang menuntut untuk berusaha dan bekerja dengan bersungguh-sungguh dan sempurna. Baru setelah itu menyerahkan hasil dan buah amal kerja hanya kepada Allah Azza wa Jalla, Dzat yang menjadi wakil atas segala urusan dan keperluan. Seorang hamba yang memahami makna tawakal akan meyakini bahwa tidak ada yang sia-sia atas segala amal yang telah dilakukan. Meski cita-cita dan harapan dari amal kerjanya belum tercapai sempurna. Sebab dalam pemahaman, beramal sebaik-baiknya menjadi kewajiban sebagai hamba, sedangkan urusan hasil adalah mutlak sepenuhnya dari Yang Mahakuasa.

Imam al-Ghazali Merumuskan Definisi Tawakkal Sebagai Berikut

“Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesulitan, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.

Menurut Abu Zakaria Ansari

tawakkal yaitu “keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain”. Sifat yang demikian terjadi sesudah timbul rasa percaya kepada orang yang diserahi urusan tadi. Artinya, ia betul-betul memiliki sifat amanah (tepercaya) terhadap apa yang diamanatkan dan ia mampu memberikan rasa aman terhadap orang yang memberikan amanat tersebut.

Tawakkal merupakan sikap mental hasil dari keyakinan bulat pada Tuhan, seperti dalam monoteisme ia mengajarkan bahwa percaya hanya Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, Maha yaitu pengetahuanNya, dia yang mengontrol dan mengatur alam semesta ini. Keyakinan ini yang mendorong untuk menyerahkan semua hal ini kepada Tuhan. Hatinya tenang dan tenteram, dan tidak ada kecurigaan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Sementara orang-orang, ada kesalahpahaman dalam melakukan kepercayaan. Ia malas untuk mencoba dan bekerja, hanya menunggu saja. Orang suka berpikir, tidak perlu belajar, jika Allah menghendaki tentu pintar untuk menjadi pintar. Atau tidak perlu bekerja, jika Tuhan ingin menjadi kaya untuk menjadi kaya, dan sebagainya.

Sama saja dengan seorang pria yang perutnya lapar, meski ada berbagai makanan, namun ia berpikir bahwa jika Allah ingin menjadi puas, pasti sudah puas. Pendapat ini pasti akan menyengsarakan diri kita sendiri.

Baca juga : Lafal Asmaul Husna

Keutamaan Orang yang Tawakal

Keutamaan Orang yang Tawakal

Dapat Membuktikan Keimanan yang Benar

Orang yang bertawakal kepada Allah swt adalah orang yang dapat membuktikan keimanannya, karena salah satu ciri orang beriman yaitu bertawakal kepada Allah swt.

Memperoleh Jaminan Rezeki

Rasulullah saw bersabda :

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, kalian pasti diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, ia pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong, kemudian pulang pada sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR Tirmidzi)

Memperoleh Kecukupan dari Apa yang Dibutuhkan

Orang yang bertawakal kepada Allah akan dicukupkan apa yang menjadi keperluannya dalam hidup. Bila dari sisi jumlah tidak cukup, paling tidak dengan bertawakal dia akan merasa cukup dengan apa yang diperolehnya. Allah swt berfirman :

 “….Barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupkan (keperluan)nya….” (ath-Thalaaq : 3)

Tidak Dikuasai Setan

Orang yang bertawakal tidak bisa digoda apalagi dikuasai oleh setan. Sebab, bagaimana mungkin setan dapat menggoda orang-orang yang begitu dekat dan terikat kepada Allah swt sebagaimana dalam firmanNya :

“Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan.” (an-Nahl : 99)

Menghargai Usaha yang Dilakukan

Saat seseorang berusaha lalu tidak mencapai hasil yang diharapkannya kadang akan merasa sia-sia atau percuma saja berusaha bila hasilnya hanya demikian. Sikap ini disebabkan oleh tidak bertawakalnya dia kepada Allah swt. Bila dia bertawakal, maka akan menerima apa yang sudah diperolehnya dan mensyukurinya.

Dicintai Allah swt

Setiap muslim pasti ingin dicintai Allah swt. Salah satu orang yang dicintai Allah yaitu orang yang bertawakal kepada Allah swt.

Ali Imron : 121 – 122 (Tawakal Dalam Peperangan)

“Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berangkat pada pagi hari meninggalkan keluargamu untuk mengatur orang-orang beriman pada pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui, ketika dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”(Ali Imron : 121-122)

Yusuf : 67 (Tawakal Terhadap Nasib)

Bertawakal dalam hal nasib atau bagian yang kita dapatkan dalam kehidupan ini yaitu meyakini sepenuhnya bahwa apapun yang kita dapatkan, banyak atau sedikit, itu semua merupakan ketentuan Allah Yang Maha Bijaksana dan harus kita terima dengan hati yang lega. Seperti ketika kita ingin menjadi pejabat atau memiliki pekerjaan dengan berpenghasilan besar, lalu kita berupaya keras dengan memenuhi syarat berupa pendidikan atau lainnya.

Setelah ini, kita bertawakal dengan percaya sepenuhnya bahwa terkabul atau tidaknya harapan itu semata-mata Allah swt yang menentukan. Dengan demikian batin kita akan menjadi tenang. Tidak perlu adanya keluh kesah, tidak perlu adanya sakit hati dan muncul dugaan ketidakadilan atas apa yang diterima, atau bahkan hujatan terhadap ketentuan Allah swt. Tawakal terhadap nasib tergolong ke dalam tawakal menerima ketetapan hukum dan takdir Allah. Allah berfirman :

Ya’qub berkata, “Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain. Meskipun demikian, Aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah kepada-Nya lah Aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal, berserah diri.” (Yusuf : 67)

Pelajaran Nabi Ya’qub kepada putra-putranya bahwa mereka harus berusaha sepenuh hati dalam mengejar keinginannya. Namun, hal ini juga harus diikuti kesadaran penuh bahwa kendali semua itu ditangan Allah swt. Sebagai bukti bahwa kita adalah hamba Allah yang beriman, kita harus pasrah dan menerima apapun keputusan-Nya. Kita tidak boleh sakit hati dan merasa kesal walau mungkin yang terjadi tidak sesuai yang diinginkan.

An-Nahl : 41-42 (Tawakal Mendatangkan Kesabaran)

Sabar merupakan salah satu kata yang sering diucapkan namun berat untuk dilaksanakan. Padahal kesabaran begitu dibutuhkan dalam kehidupan. Sabar dapat berarti tekun dan ulet dalam mengejar sebuah keinginan, atau kuat dan teguh dalam menghadapi ujian dan cobaan.

Islam mengajarkan kepada kita salah satu cara untuk mendapatkan sifat sabar yaitu dengan cara bertawakal kepada Allah swt. Seperti firman Allah

“Orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakal.” (an-Nahl : 41-42)

Doa dan Ayat Terhadap Tawakal

Doa dan Ayat Terhadap Tawakal

Asy-syura : 10 (Tawakal Dalam Perselisihan)

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, Maka putusannya (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.”

QS.Al-Anfal : 61 (Tawakal Dalam Perdamaian)

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Tawakal Dalam Berdakwah

At-Taubah : 128-129

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.”

Yunus : 71-72

“Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu Dia berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, Maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).”

QS. ar-Ra’d : 30

“Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, Padahal mereka kafir kepada Tuhan yang Maha Pemurah. Katakanlah: “Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan selain dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.”

Yunus : 84-85 (Tawakal Dalam Mengahadapi Fitnah)

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, Maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri.”

85. Lalu mereka berkata: “Kepada Allahlah Kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan Kami sasaran fitnah bagi kaum yang’zalim,”

Ibrahim : 12 (Tawakal Dalam Menghadapi Gangguan)

“Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah Padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri.”

Manfaat Tawakal

Manfaat Tawakal

Dalam riwayat Islam, tawakal sudah di junjung tinggi sebagai tanda yang jelas dari seorang yang beriman, takwa dan berserah hanya pada Allah. Hanya mereka yang menikmati hubungan sejati dengan Allah yang dapat selalu percaya pada-Nya, dalam kondisi apapun di seluruh kehidupannya.

Seseorang yang bertawakal kepada Allah kesuksesannya di dunia dan di akhirat terjamin oleh-nya, tidak peduli apapun kesulitan yang dialami di kehidupan atau seberapa dahsyatnya kekuatan musuh yang dihadapinya.

Imam Ali (a.s): “Tawakal pada Allah adalah sumber pertolongan dari setiap kejahatan dan perlindungan dari setiap musuh.” [Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, vol. 56, hal. 79].

Hikmah Tawakal

Hikmah Tawakal

Orang yang bertawakal kepada Allah swt. Maka akan senantiasa mempertimbangkan dan merencanakan setiap pekerjaan diserahkan kepada kehendak Allah swt.. Karena itu, orang yang bertawakal akan memperoleh banyak hikmah, seperti:

  1. Setiap urusan akan terencana dengan baik dan matang.
  2. Mendapatkan ketenangan pikiran dan jiwa.
  3. Bersikap optimis.
  4. Menyadari keagungan Allah dan keterbatasan usaha manusia.

Contoh Tawakal

Contoh Tawakal

Contoh, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, baru ia bertawakkal. Pada zaman Rasulullah saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, “Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah”. Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, “Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal.”

Perilaku Tawakal

Perilaku Tawakal

Tawakal bukanlah penyerahan diri kepada Allah secara mutlak, melainkan penyerahan tersebut harus disertai dengan usaha manusia terlebih dahulu. Suatu hari seorang sahabat menemui Rasulullah di masjid tanpa terlebih dahulu menambatkan untanya. Ketika Nabi Muhammad SAW. Menanyakan hal tersebut, dia menjawab, “Aku telah bertawakal kepada Allah.” Lalu Nabi Muhammad SAW meluruskan kekeliruan tersebut dengan bersabda, “Tambatkanlah terlebih dahulu (untamu), setelah itu bertawakallah.” (H.R. Ibnu Hibban).

Baca juga : Tulisan Arab Bismillah

Bertawakal kepada Allah mengharuskan seseorang meyakini bahwa Allahlah yang menentukan kejadian segala sesuatu. Namun, setiap muslim dituntut untuk berusaha dan pada saat yang sama dituntut pula untuk berserah diri kepada Allah SWT., menanti hasilnya sesuai kehendak dan ketetapan-Nya. Semoga penjelasan di atas mengenai Pengertian Tawakal, semoga bermanfaat.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close