Pendidikan

Apa Itu Pengertian Khitbah : Dalil, Tata Cara dan Syaratnya

Saat seseorang sebelum melakukan pernikahan atau dalam tahap menuju pernikahan maka biasanya melakukan satu acara yang dinamakan proses Khitbah atau meminang.

Mengapa dilakukan proses khitbah, hal ini dikarenakan seorang laki-laki boleh melihat yang terlihat pada wanita yang dipinang tanpa berduaan atau ber-khalwat. Sehingga hal tersebut tidak menimbulkan dosa dan terhindar dari fitnah.

Bagaimana sebenarnya khitbah, caranya, dan syarat khitbah? Untuk itu simak pembahasan berikut mengenai  Pengertian Khitbah dibawah ini dengan seksama.

Baca juga : Apa Itu Istiqomah ?

Pengertian Khitbah

Apa Itu Pengertian Khitbah : Dalil, Tata Cara dan Syaratnya

Dalam bahasa Indonesia, arti dari kata Khitbah memiliki banyak arti. Seperti melamar atau meminang dan juga ada yang mengartikan dengan pertunangan. Khitbah didefinisikan sebagai pengajuan lamaran atau pinangan kepada pihak wanita.

Namun pengajuan tersebut bersifat baku atau berlaku, karena belum tentu diterima. Dalam hal ini pihak wanita bisa meminta waktu agar memikirkan dan melakukan pertimbangan terhadap permintaan khitbah dalam beberapa waktu.

Jika khitbah diterima, maka wanita akan menjadi wanita yang statusnya Makhthubah atau wanita yang sudah dilamar, sudah dipinang, atau dapat disebut dengan wanita yang telah dipertunangkan.

Sedangkan jika khitbah tidak diterima, seperti ditolak secara halus atau tidak ada jawaban sampai pada waktu yang disepakati, maka statusnya menggantung. Maka wanita tersebut tidak disebut sebagai wanita yang telah di khitbah sehingga pertunangannya belum terjadi.

Baca juga : Apa Itu Ukhuwah ?

Dalil Khitbah

Dalil Khitbah

Proses khitbah mempunyai hadits yang menguatkan yaitu:

Rasulullah saw, bersabda: “Apabila seorang di antara kalian meng-khitbah (meminang) seorang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah.” (HR.Ahmad dan Abu Dawud).

Hadits lain, Rasulullah saw bersabda: “Lihatlah dia, sebab itu lebih patut untuk melanggengkan di antara kalian berdua.” (HR. At-Tirmidzi, 1087).

Dari hadits diatas, dapat diambil arti jika boleh melihat apa yang lazim terlihat pada wanita yang dipinang, tanpa sepengetahuannya dan tanpa ber khalwat atau berdua-an.

Baca juga : Apa Itu Qanaah ?

Tata Cara Menyampaikan Khitbah

Tata Cara Menyampaikan Khitbah

Berikut cara menyampaikah khitbah bisa menggunakan dua cara yaitu:

  • Mengucapkan perkataan yang jelas dan terus terang. Hal ini dapat dilakukan untuk perempuan yang masih gadis atau janda yang telah habis masa iddahnya.
  • Mengucapkan perkataan yang tidak jelas dan tidak terus terang. Ini dilakukan untuk janda yang masih dalam masa talak bain atau iddah sebab ditinggal wafat oleh suaminya.

Allah Swt berfirman:

Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran.” (QS.Al Baqarah:235).

Baca juga : Apa Itu Tabligh ?

Hukum Khitbah

Hukum Khitbah

Hukum dari suatu khitbah atau meminang yaitu mubah (boleh) dengan adanya ketentuan sebagai berikut:

Wanita yang dikhitbah atau dipinang mempunyai syarat seperti:

  • Tidak terikat dalam akad pernikahan
  • Tidak dalam masa iddah talak raj’i
  • Tidak dalam pinangan (khitbah) dari laki-laki lain.

Rasulullah Saw bersabda:

“Seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya, oleh karena itu ia tidak boleh memberi atau menawar sesuatu yang sudah dibeli atau ditawar saudaranya, dan ia tidak boleh meminang seorang yang sudah dipinang saudaranya, kecuali ia telah dilepaskannya.” (Mutaffaq’Alaih).

Baca juga : Apa Itu Tawakal ?

Syarat Khitbah

Syarat Khitbah

Khitbah bisa dilakukan kepada wanita yang sudah memenuhi syarat seperti yang ditulis dalam Kompilasi Hukum Islam pasal 12 yaitu:

Syarat seorang perempuan yang boleh di khitbah:

  • Khitbah bisa dilakukan kepada wanita yang masih gadis atau kepada janda yang sudah habis masa iddahnya.
  • Wanita yang ditalak suami yang masih dalam masa iddah raj’i, haram dan tidak boleh untuk dipinang.
  • Dilarang meminang wanita yang sedang dipinang laki-laki lain, selama pinang laki-laki itu belum putus atau belum ada penolakan dari pihak wanita.
  • Putusnya pinangan pihak laki-laki, sebab ada pernyataan mengenai putusnya hubungan pinangan atau secara diam-diam pria yang meminang sudah menjauh dan pergi meninggalkan wanita yang dipinang.

Sehingga khitbah, meminang atau melamar artinya meminta wanita untuk dijadikan istri. Dalam KHI pasal 1 (a), khitbah ialah kegiatan upaya kearah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita. Atau, seorang laki-laki meminta kepada seorang perempuan untuk menjadi istrinya, dengan cara-cara yang umum berlaku ditengah-tengah masyarakat.

Khitbah yaitu proses awal dari sebuah perkawinan. Dengan begitu perempuan yang secara hukum syara’ boleh dikawini oleh seorang laki-laki, boleh dipinang.

Kompilasi Hukum Islam mengatur khitbah dalam Pasal 1, 11, 12, dan 13. Keseluruhan Pasal yang mengatur khitbah berasal dari fiqh madzhab, terutama madzhab Syafi’iy.

Pihak yang melakukan khitbah diatur dalam pasal 11 dengan rumusan:

Khitbah dapat dilakukan langsung oleh orang yang berkehendak mencari pasangan jodoh, namun bisa juga dilakukan oleh perantara yang dapat dipercaya.

Mengenai perempuan yang boleh dipinang dan tidak boleh dipinang disebutkan dalam Pasal 12 yang secara lengkap rumusannya seperti sebagai berikut:

  1. Khitbah bisa dilakukan terhadap seorang wanita yang masih perawan atau terhadap janda yang telah habis masa iddahnya.
  2. Wanita yang ditalak suami yang masih berada dalam masa iddah raj’iyah, haram dan dilarang untuk dipinang.
  3. Dilarang meminang seorang wanita yang sedang dipinang pria lain, selama pinangan pria tersebut belum putus atau belum ada penolakan dari pihak wanita.
  4. Putusnya pinangan pihak pria, karena adanya pernyataan tentang putusnya hubungan pinangan atau secara diam-diam pria yang meminang sudah menjauhi dan meninggalkan wanita yang dipinangnya.

Akibat Hukum Khitbah atau Peminangan

Akibat Hukum Khitbah atau Peminangan

Khitbah adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mendahului perkawinan dan menurut biasanya setelah itu dilakukan sebelum perkawinan. Namun khitbah bukanlah suatu perjanjian yang mengikat untuk dipatuhi. Laki-laki yang meminang atau perempuan yang dipinang dalam masa menjelang perkawinan bisa saja membatalkan khitbah tersebut. Meski demikian, pemutusan khitbah dilakukan secara baik dan tidak menyakiti pihak manapun. Pemberian yang dilakukan dalam acara khitbah tidak mempunyai kaitan dengan mahar perkawinan. Dengan demikian, pemberian tersebut dapat diambil kembali bila khitbah itu tidak berlanjut lagi.

Hubungan antara laki-laki yang meminang dengan perempuan yang dipinangnya selama masa antara khitbah dan perkawinan adalah sebagaimana hubungan laki-laki dan perempuan asing. Karena itu belum berlaku hak dan kewajiban diantara keduanya.

UU Perkawinan sama sekali tidak membicarakan khitbah. Mengenai akibat hukum suatu khitbah dijelaskan dalam pasal 13 KHI sebagai berikut;

1. Pinangan atau khitbah belum menimbulkan akibat hukum dan para pihak bebas memutuskan hubungan khitbah.

2. Kebebasan memutuskan hubungan khitbah atau peminangan dilakukan dengan tata cara yang baik sesuai dengan tuntunan agama dan kebiasaan setempat, sehingga tetap terbina kerukunan dan saling menghargai.

Sekian ulasan mengenai Pengertian Khitbah, semoga menjadi manfaat yang positif.

Tags
Show More

Tahu Kau

Tahukau blog ini tercipta dikarenakan seseorang yang memberikan inpirasi penuh dengan sebuah informasi dan ilmu yang baik. Dan mengajarkan dari hal mental terlebih dahulu. Sehingga Blog Ini Tercipta menjadi www.tahukau.com

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close